Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, pemerintah memastikan ketahanan energi di Jawa Bagian Barat tetap prima. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman bersama Ketua Posko Nasional Sektor ESDM Erika Retnowati meninjau langsung PT Pertamina Patra Niaga Subholding Downstream Refinery Unit (RU) VI Balongan.
Laode menegaskan, pasokan energi, mulai dari BBM, LPG, hingga minyak mentah, aman dan siap memenuhi kebutuhan masyarakat selama arus mudik dan perayaan Idulfitri.
“Baik untuk crude oil, stok BBM, maupun LPG semua tersedia. Masyarakat tidak perlu panik. Kita juga terus berinovasi agar pemanfaatan BBM lebih optimal sesuai kebutuhan,” ujar Laode.
Untuk mendukung mobilitas masyarakat, Pertamina menyiapkan infrastruktur dan layanan tambahan di wilayah Jawa Bagian Barat (RJBB):
- 1.620 SPBU dan 439 Pertashop
- 2.331 Agen LPG dan 206 SPBE
- 2 Agen minyak tanah
- 427 SPBU 24 jam
- 2.180 Agen LPG Siaga
- 18 titik layanan BBM & Kiosk Pertamina Siaga
- 52 titik Motorist / Pertamina Delivery Service (PDS) BBM
- 563 agen PDS Bright Gas
- 62 mobil tangki standby
- 11 Serambi MyPertamina dengan fasilitas istirahat, mini klinik, area bermain anak, dan layanan kendaraan
“Pelayanan tambahan ini dibuat agar pemudik dan masyarakat yang menggunakan energi selama Ramadan dan Idulfitri bisa nyaman dan lancar,” tambah Laode.
Berdasarkan data historis, kebutuhan energi di Jawa Barat diperkirakan meningkat pada periode 9 Maret–1 April 2026:
- Gasoline naik 9,6% karena mobilitas kendaraan pribadi meningkat
- Avtur naik 0,5%
- LPG naik 2,86% akibat aktivitas rumah tangga selama Ramadan
- BBM industri naik 7,9%
- Solar turun 27,3% karena pembatasan operasional kendaraan logistik saat arus mudik
Refinery Unit VI Balongan memiliki kapasitas 150 ribu barel stream per day (MBSD) dan Nelson Complexity Index 11,9, menjadikannya kilang dengan kompleksitas tertinggi di Indonesia. Sekitar 82% produk kilang disalurkan ke Jakarta dan Jawa Barat melalui Integrated Terminal Balongan, Fuel Terminal Cikampek, dan Integrated Terminal Jakarta (Plumpang). Sisanya 12% didistribusikan ke wilayah lain, sementara 6% diekspor ke Singapura sebagai decant oil.
Dengan kesiapan ini, Pertamina dan pemerintah memastikan stok energi aman, distribusi lancar, dan pemudik bisa menikmati perjalanan tanpa khawatir kekurangan BBM maupun LPG.




