Di tengah tren global yang mulai meninggalkan energi fosil, Indonesia justru melihat peluang besar dari kekayaan alamnya sendiri.
Pemerintah kini tancap gas mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), mulai dari tenaga surya, panas bumi, hingga biomassa semuanya diproyeksikan jadi tulang punggung energi masa depan.
Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan Indonesia bisa mencapai kemandirian energi dalam waktu empat tahun.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Prabowo menegaskan bahwa percepatan transisi energi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak.
“Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, dan kita yakin bisa tercapai dalam 4 tahun,” ujarnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah langsung membentuk satuan tugas percepatan transisi energi dan menunjuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai ketuanya.
Salah satu langkah paling ambisius adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW).
Target ini menjadi fokus utama dalam jangka pendek untuk mempercepat elektrifikasi berbasis energi bersih.
“Kita akan buktikan ke dunia bahwa Indonesia bisa lebih cepat dan efektif dalam energi terbarukan,” tegas Prabowo.
Prabowo juga mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya punya “modal besar” yang belum dimanfaatkan maksimal.
Mulai dari:
- Kelapa sawit dan tebu untuk bioenergi
- Singkong dan jagung sebagai bahan bakar alternatif
- Cadangan panas bumi (geothermal) terbesar kedua di dunia
Menurutnya, banyak negara justru mengalami krisis energi lebih parah, sementara Indonesia punya sumber daya melimpah.
Sementara itu, Bahlil menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, terutama diesel yang masih banyak digunakan saat ini.
“Saat ini pembangkit kita masih banyak pakai diesel, batu bara, dan gas. Arahan Presiden jelas: kita harus beralih ke energi terbarukan,” kata Bahlil.
PLTS skala besar menjadi solusi cepat karena bisa dibangun lebih fleksibel dan memanfaatkan potensi sinar matahari yang melimpah di Indonesia.
Tak hanya PLTS, pemerintah juga akan mengoptimalkan seluruh potensi EBT yang ada di berbagai daerah.
Mulai dari:
- Panas bumi (geothermal)
- Tenaga air (hidro)
- Biomassa
Dengan kombinasi ini, Indonesia diharapkan bisa membangun sistem energi yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada impor energi fosil.
Langkah besar yang diambil pemerintah menunjukkan arah baru kebijakan energi nasional.
Dari yang sebelumnya bergantung pada fosil, kini Indonesia mulai beralih ke energi bersih yang lebih berkelanjutan.
Jika target ini tercapai, bukan hanya ketahanan energi yang meningkat, tapi juga posisi Indonesia di kancah global sebagai negara yang serius dalam transisi energi.
Satu hal yang pasti: era energi baru Indonesia sedang dimulai dan lajunya makin cepat.




