Pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku dan Maluku Utara mulai menunjukkan geliat besar. Munculnya pusat-pusat industri dan kawasan ekonomi baru membuka peluang besar bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia.
Namun di balik optimisme tersebut, pemerintah menilai ada satu hal penting yang tidak boleh terlambat hadir, yakni pasokan listrik yang andal dan merata.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot saat melakukan kunjungan ke Kantor PT PLN (Persero) UP3B Maluku di Ambon.
Menurut Yuliot, pertumbuhan kawasan industri baru seperti di Weda Bay, Halmahera hingga Saumlaki harus diimbangi kesiapan infrastruktur energi agar pembangunan berjalan maksimal tanpa hambatan.
“Adanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru diperlukan persiapan ketersediaan energi khususnya di wilayah-wilayah yang dimungkinkan tumbuhnya industri-industri baru seperti di Weda Bay, Halmahera dan di Saumlaki kelak jika sudah beroperasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jangan sampai aktivitas ekonomi sudah berkembang pesat namun pasokan listrik justru belum tersedia sehingga menghambat operasional industri dan pelayanan masyarakat.
“Dengan akan dibangunnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Maluku dan Maluku Utara, kami berharap jangan sampai terjadi kegiatan ekonomi sudah terbangun namun pasokan listriknya belum tersedia sehingga terjadi delay,” katanya.
Tak hanya fokus pada kawasan industri, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap pemerataan listrik hingga wilayah terpencil dan daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Menurut Yuliot, setelah lebih dari 80 tahun Indonesia merdeka, masyarakat di wilayah pelosok tidak boleh lagi tertinggal dalam menikmati akses energi.
Ia menyebut pemanfaatan energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dilengkapi sistem penyimpanan energi menjadi salah satu solusi efektif untuk menjangkau daerah kepulauan.
“Wilayah 3T adalah benteng kita bersama. Ketika listrik hadir, di situ ada pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang bergerak, dan harapan yang tumbuh,” tambahnya.
Sementara itu, General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara Noer Soeratmoko mengatakan kondisi kelistrikan di wilayah tersebut terus mengalami peningkatan meski tantangan geografis kepulauan masih menjadi pekerjaan besar.
Menurutnya, PLN berkomitmen menjaga keandalan pasokan sekaligus memperluas jangkauan layanan listrik bagi masyarakat.
“Tantangan geografis wilayah kepulauan tetap menjadi perhatian bagi kami dalam memastikan listrik yang andal dan merata. Ke depan kami berkomitmen terus mendukung program pemerintah dalam memudahkan kegiatan energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyediaan listrik yang andal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Saat ini, sistem kelistrikan di Maluku dan Maluku Utara ditopang oleh 168 sistem yang melayani hampir 890 ribu pelanggan.
PLN mencatat daya mampu kelistrikan mencapai 457,15 megawatt (MW) dengan beban puncak sekitar 292,82 MW. Angka tersebut dinilai masih memberikan ruang untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik di masa mendatang.
Di tengah pesatnya pembangunan kawasan timur Indonesia, listrik kini bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, tetapi menjadi fondasi penting bagi pendidikan, ekonomi hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Ketika listrik mampu hadir hingga pelosok dan menopang pertumbuhan industri, di situlah pembangunan benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

