Batu bara berkalori rendah yang selama ini dianggap kurang bernilai ekonomi kini mulai mendapat perhatian serius pemerintah.
Melalui proyek gasifikasi batu bara bersama perusahaan teknologi Amerika Serikat, Latitude Energy, Indonesia berpeluang mengubah komoditas tersebut menjadi produk energi dan bahan baku industri bernilai tinggi.
Selama ini Indonesia masih mengandalkan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) serta sejumlah bahan baku industri kimia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kondisi tersebut terus membebani neraca perdagangan nasional.
Teknologi Transport Integrated Gasification (TRIG™) yang akan digunakan dalam proyek ini memungkinkan batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas sintetis (syngas).
Syngas tersebut selanjutnya dapat diproses menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan baku industri pupuk dan petrokimia.
Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai tambah batu bara nasional yang selama ini sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah.
Selain mengurangi ketergantungan impor, proyek ini juga diyakini mampu memperkuat industri hilir dalam negeri sekaligus membuka peluang investasi baru.
CEO PT Danantara Development Management Fund, Sigit P. Santosa, mengatakan pemanfaatan batu bara kalori rendah merupakan bagian dari strategi besar pemerintah membangun kemandirian energi nasional.
Sementara itu, Latitude Energy menyatakan siap mendukung transfer teknologi, investasi, hingga pengembangan sumber daya manusia agar Indonesia mampu membangun industri gasifikasi secara berkelanjutan.
Dengan cadangan batu bara berkalori rendah yang sangat besar, Indonesia dinilai memiliki peluang menjadi pemain utama industri gasifikasi di kawasan Asia Tenggara.


