Jauh sebelum Indonesia dikenal sebagai salah satu eksportir batubara terbesar di dunia, sejarah panjang industri “emas hitam” nasional ternyata bermula dari tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Di wilayah yang kini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Kalimantan tersebut, jejak awal penambangan batubara Indonesia dimulai hampir dua abad lalu. Tepatnya pada tahun 1845, ketika seorang pedagang asal Inggris bernama George Peacock King (G.P. King) melakukan penelitian di kawasan sekitar Sungai Mahakam, Samarinda.
Saat itu, Samarinda masih berada di bawah kendali Pemerintah Kolonial Belanda setelah serangkaian perjanjian yang membuat Kesultanan Kutai mengakui kekuasaan kolonial atas pesisir Kalimantan Timur.
Penemuan G.P. King menjadi titik awal lahirnya industri batubara di Nusantara. Namun perjalanan menuju industri tambang modern ternyata tidak semulus yang dibayangkan.
### Batubara Pertama yang Mengecewakan
Awalnya, G.P. King menemukan cadangan batubara di sekitar Samarinda. Sayangnya, kualitas batubara tersebut tergolong rendah sehingga kurang layak digunakan untuk kebutuhan utama saat itu, yakni bahan bakar mesin uap yang menjadi tulang punggung Revolusi Industri di Eropa.
Tidak menyerah, tim penelitiannya melanjutkan pencarian hingga ke kawasan Palaran. Di sinilah mereka menemukan batubara dengan kualitas yang jauh lebih baik.
Melihat potensi besar tersebut, G.P. King segera mengajukan izin eksplorasi dan perdagangan kepada pemerintah kolonial. Namun harapannya pupus setelah Pemerintah Belanda menerbitkan Besluit Nomor 45 Tahun 1850 yang melarang pihak non-Belanda mengelola sumber daya tambang strategis.
Kebijakan tersebut membuat seluruh potensi batubara yang ditemukan akhirnya diambil alih oleh pemerintah kolonial.
### Belanda Mulai Menambang di Palaran
Pada tahun 1860, pemerintah kolonial menemukan lapisan batubara berkualitas tinggi di sekitar Bukit Palaran. Setahun kemudian, mereka berhasil memproduksi sekitar 800 ton batubara yang seluruhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kapal uap Belanda.
Untuk meningkatkan produksi, Belanda kemudian mendatangkan insinyur pertambangan Jacobus Herbertus Menten pada tahun 1862.
Sejak saat itu aktivitas tambang berkembang pesat dengan melibatkan ratusan buruh dari berbagai daerah dan negara.
### Kisah Berat Para Buruh Tambang
Di balik meningkatnya produksi batubara, tersimpan kisah getir para pekerja tambang pada masa kolonial.
Buruh didatangkan dari Tiongkok melalui Singapura dan Penang. Selain itu, terdapat pekerja asal Jawa, Madura, Bugis hingga masyarakat Dayak lokal yang turut terlibat dalam aktivitas tambang.
Mereka harus bekerja di tengah hutan belantara dengan kondisi yang jauh dari kata nyaman. Penggalian dilakukan siang dan malam, sementara keselamatan kerja nyaris tidak menjadi perhatian utama.
Tekanan pekerjaan yang berat sering memicu konflik antarburuh. Perkelahian hingga korban jiwa menjadi pemandangan yang tidak asing di kawasan tambang saat itu.
Pemerintah kolonial juga menghadapi persoalan lain, yakni banyaknya buruh yang mencoba melarikan diri. Untuk mencegah hal tersebut, berbagai cara dilakukan mulai dari memperketat penjagaan hingga menyediakan arena hiburan, pasar, dan perjudian.
Ironisnya, fasilitas tersebut justru membuat banyak buruh terjerat utang kepada pengelola tambang. Akibatnya mereka terpaksa terus bekerja hingga utang tersebut lunas.
### Produksi Naik, Lalu Terpuruk
Meski diwarnai berbagai persoalan, produksi batubara sempat menunjukkan peningkatan.
Pada tahun 1862 produksi mencapai sekitar 1.292 ton dan meningkat menjadi hampir 1.500 ton pada tahun berikutnya.
Puncaknya terjadi pada tahun 1865 ketika produksi melonjak hingga lebih dari 4.000 ton setelah para pekerja berhasil menggali lapisan yang lebih dalam.
Namun kejayaan itu tidak berlangsung lama.
Cadangan batubara berkualitas tinggi di Palaran ternyata tidak sebanyak yang diperkirakan. Situasi semakin buruk ketika pada tahun 1866 terjadi kebakaran tambang akibat percikan api rokok seorang pekerja yang menyambar gas metana di dalam area tambang.
Insiden tersebut menyebabkan operasional terhenti selama berbulan-bulan dan produksi anjlok drastis.
Meski penggalian terus dilakukan hingga kedalaman puluhan meter, hasil yang diperoleh semakin menurun. Pada tahun 1871, produksi hanya tersisa sekitar 105 ton atau menjadi titik terendah sepanjang sejarah tambang Palaran.
### Akhir Era Tambang Palaran
Kerugian yang terus membengkak membuat Pemerintah Kolonial Belanda mulai kehilangan minat terhadap tambang tersebut.
Upaya mencari investor swasta pun gagal membuahkan hasil. Akhirnya pada tahun 1872, pengelolaan tambang diserahkan kepada penasihat Sultan Kutai.
Namun penggunaan teknologi yang lebih sederhana tidak mampu mengembalikan kejayaan tambang Palaran. Bertahun-tahun dilakukan penggalian, hasilnya tetap mengecewakan.
Di tengah kegagalan itu, pemerintah kolonial justru menemukan cadangan batubara yang lebih menjanjikan di kawasan lain sepanjang Sungai Mahakam, antara Samarinda dan Tenggarong.
Penemuan inilah yang kemudian membuka jalan lahirnya perusahaan tambang swasta pertama di Kalimantan Timur, Oost-Borneo Maatschappij (OBM), pada tahun 1888.
### Awal Lahirnya Industri Batubara Modern Indonesia
Meski berakhir dengan kegagalan, tambang Palaran memiliki arti penting dalam sejarah Indonesia. Dari kawasan inilah industri batubara nasional mulai tumbuh dan berkembang hingga menjadi salah satu sektor strategis yang menopang perekonomian negara saat ini.
Jejak lubang-lubang tambang tua di Palaran menjadi saksi bisu bagaimana perjalanan panjang industri batubara Indonesia dimulai dari sebuah penelitian sederhana di tepi Sungai Mahakam hingga menjadikan Kalimantan sebagai salah satu pusat pertambangan terbesar di Asia Tenggara.

