Ekspor batu bara Indonesia masih menunjukkan daya tahan di tengah perlambatan permintaan di pasar domestik China.
Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, ekspor batu bara Indonesia pada Juni 2026 mencapai **39,22 juta ton**. Angka tersebut memang turun hampir 2 persen dibanding Mei 2026 yang menembus 40 juta ton, namun masih meningkat sekitar **17 persen** dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hampir seluruh ekspor tersebut dikirim ke kawasan Asia dengan porsi mencapai 98,5 persen dari total pengapalan.
China tetap menjadi pelanggan terbesar batu bara Indonesia dengan volume impor mencapai 16,52 juta ton sepanjang Juni. Jumlah itu melonjak lebih dari 50 persen dibandingkan Juni tahun lalu.
Selain China, pasar utama lainnya adalah India, Filipina, Vietnam, dan Malaysia.
Meski demikian, kondisi di dalam negeri China justru menunjukkan sinyal berbeda.
Permintaan batu bara di Negeri Tirai Bambu masih relatif lemah akibat tingginya stok di pembangkit listrik serta meningkatnya produksi listrik tenaga air setelah curah hujan tinggi di kawasan Sungai Yangtze.
Akibat stok yang masih melimpah, banyak pembangkit listrik memilih memanfaatkan kontrak jangka panjang dibanding membeli batu bara di pasar spot.
Situasi tersebut membuat harga batu bara di sejumlah wilayah tambang China terus mengalami penurunan. Bahkan beberapa perusahaan tambang terpaksa memangkas harga hingga **10–20 yuan per ton** demi mendorong penjualan.
Meski pasar domestik China sedang melemah, tingginya impor batu bara dari Indonesia menunjukkan kebutuhan negara tersebut terhadap pasokan luar negeri masih tetap besar.


