Harga batu bara dunia kembali berada di bawah tekanan. Sepanjang pekan perdagangan, komoditas energi ini harus menerima sentimen negatif dari India yang mulai memperkuat pasokan domestiknya.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), harga batu bara dunia untuk kontrak pengiriman September 2026 ditutup turun 0,19% ke level US$129,5 per ton.
Jika dihitung secara point-to-point sepanjang pekan, harga batu bara global bahkan terkoreksi 3,36%.
Salah satu pemicu utama tekanan tersebut datang dari India. Produksi batu bara negara tersebut pada Juli 2026 melonjak 7,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 69,75 juta ton.
Kenaikan produksi membuat pasokan batu bara domestik India semakin melimpah. Dampaknya, kebutuhan terhadap batu bara impor berpotensi ikut berkurang.
Bukan hanya produksi yang meningkat. Distribusi batu bara India menuju pembangkit listrik dan konsumen industri juga mengalami lonjakan. Pengiriman batu bara tercatat naik 17,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa India memiliki pasokan domestik yang semakin kuat, sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap pasar batu bara global.
Di tengah tekanan dari India, China justru memberikan sedikit angin segar bagi pasar batu bara.
Permintaan di China mulai membaik seiring meningkatnya suhu udara dan penggunaan pendingin ruangan. Kondisi tersebut mendorong konsumsi listrik dan ikut menopang kebutuhan batu bara untuk pembangkit.
Harga batu bara di sejumlah pelabuhan utara China juga masih menunjukkan penguatan. Kondisi tersebut didorong oleh pasokan yang relatif lebih ketat dan meningkatnya kebutuhan listrik selama musim panas.
Namun, penguatan harga tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren pasar.
Salah satu masalahnya adalah permintaan riil yang belum menunjukkan peningkatan signifikan. Cuaca di sejumlah wilayah China bahkan tidak sepanas perkiraan sebelumnya sehingga konsumsi listrik dan pembelian batu bara spot oleh pembangkit tidak setinggi ekspektasi pasar.
Aktivitas pengapalan juga masih relatif lesu. Hal itu terlihat dari berkurangnya jumlah kapal yang mengantre untuk memuat batu bara di sejumlah pelabuhan utama China bagian utara.
Tekanan lainnya datang dari persediaan batu bara yang masih melimpah.
Stok di pelabuhan selatan China, termasuk Guangzhou, terus meningkat. Persediaan di pembangkit listrik juga masih berada pada level tinggi.
Situasi tersebut membuat perusahaan utilitas belum memiliki dorongan kuat untuk melakukan pembelian tambahan secara agresif.
Dengan kombinasi produksi India yang meningkat, stok China yang masih tinggi, serta permintaan yang belum benar-benar solid, pasar batu bara global masih menghadapi tantangan.
Pelaku pasar kini akan mencermati apakah meningkatnya kebutuhan listrik di China selama musim panas mampu menjadi penyeimbang terhadap tambahan pasokan dari India dan menahan pelemahan harga batu bara lebih lanjut.


