Pemerintah China semakin agresif mempercepat transisi menuju energi bersih. Dalam rencana pembangunan lima tahun 2026–2030, Negeri Tirai Bambu menargetkan 25 persen konsumsi energi berasal dari sumber nonfosil pada 2030.
Namun di balik ambisi tersebut, China justru menegaskan bahwa batu bara masih menjadi bagian penting dalam sistem ketahanan energi nasional.
Pemerintah memastikan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tetap berlanjut sebagai pembangkit cadangan ketika produksi listrik dari tenaga surya dan angin menurun akibat faktor cuaca.
Selain membangun energi terbarukan, China juga memperluas industri hilirisasi batu bara melalui proyek coal-to-oil, coal-to-gas dan industri kimia berbasis batu bara, terutama di wilayah Mongolia Dalam.
Strategi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas setelah konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Di sisi lain, lonjakan kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik (EV), dan sektor manufaktur juga menjadi alasan pemerintah tetap mempertahankan peran batu bara dalam bauran energi nasional.


