Diplomasi tingkat tinggi kembali digelar. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kunjungan kerja ke Washington, D.C., Selasa (17/2) waktu setempat.
Dalam agenda tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, turut mendampingi sebagai bagian dari misi diplomasi energi Indonesia.
Energi Jadi Fokus Strategis
Pertemuan kedua kepala negara difokuskan pada penguatan hubungan Indonesia–Amerika Serikat serta penjajakan kerja sama strategis di berbagai sektor. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah bidang energi dan sumber daya mineral.
Bahlil menegaskan, sektor energi memiliki peran sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan daya saing industri nasional.
“Diplomasi yang akan dilakukan Presiden merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global. Di sektor energi, kami akan memastikan setiap peluang kerja sama dapat mendukung ketahanan energi dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional,” ujar Bahlil di Washington D.C.
Dorong Investasi dan Transfer Teknologi
Dalam rangkaian agenda tersebut, pemerintah menjajaki komunikasi strategis terkait peningkatan investasi, transfer teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia di sektor energi dan mineral.
Menurut Bahlil, kolaborasi yang dibangun harus berprinsip saling menguntungkan dan tetap berpijak pada kepentingan nasional.
“Kami akan mendorong kolaborasi yang berorientasi pada peningkatan investasi, transfer teknologi, dan pengembangan SDM. Prinsipnya adalah kemitraan yang saling menguntungkan,” jelasnya.
Sejalan Target Net Zero Emission 2060
Langkah diplomasi ini juga dikaitkan dengan komitmen Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060. Pemerintah terus memperkuat bauran energi yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan guna memastikan transisi energi berjalan seimbang.
Bahlil menegaskan, setiap kerja sama internasional harus tetap mengedepankan kedaulatan energi dan kepentingan rakyat.
“Ketahanan dan kemandirian energi adalah fondasi utama pembangunan. Setiap langkah diplomasi energi harus memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan produktivitas nasional,” tegasnya.
Perkuat Posisi di Tengah Dinamika Global
Pertemuan bilateral ini dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempertegas posisi strategisnya di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Dengan energi sebagai salah satu pilar utama, pemerintah berharap kerja sama yang terjalin mampu membuka peluang investasi baru sekaligus mempercepat pengembangan industri nasional.



