Penurunan debit air akibat kondisi kering juga mulai dirasakan di Sungai Barito. Jalur transportasi penting bagi industri batu bara tersebut mengalami penurunan kedalaman yang berpotensi membatasi pergerakan tongkang dari wilayah tambang menuju terminal ekspor.
Kondisi ini menjadi perhatian industri karena Sungai Barito merupakan salah satu jalur utama distribusi batu bara dari wilayah Kalimantan menuju pasar domestik maupun internasional.
Fenomena El Niño yang menyebabkan kondisi lebih kering turut meningkatkan risiko terganggunya aktivitas angkutan sungai.
Argus Media melaporkan, sejumlah produsen batu bara menyatakan force majeure atau keadaan kahar terhadap pengiriman batu bara akibat rendahnya permukaan air Sungai Barito.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman,” demikian laporan Argus pada 2 September 2026.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan ekspor apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.
Persoalan utama berada pada kedalaman sungai. Ketika muka air turun, kemampuan tongkang untuk membawa muatan dalam jumlah besar ikut terpengaruh.
Pengurangan muatan diperlukan agar draft tongkang tetap sesuai dengan kondisi alur pelayaran. Namun, langkah tersebut secara otomatis dapat mengurangi volume batu bara yang dapat diangkut dalam satu perjalanan.
Dampaknya bisa merambat ke rantai pasok. Jika satu tongkang membawa muatan lebih sedikit, maka diperlukan lebih banyak perjalanan untuk mengangkut volume batu bara yang sama.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi waktu pengiriman dan efisiensi logistik.
Wilayah Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah yang ikut menjadi perhatian. Berdasarkan data yang dikutip Argus Media, tambang batu bara di wilayah tersebut memproduksi batu bara dengan kalori menengah hingga tinggi.
Sejumlah tambang bahkan memiliki produksi hingga sekitar 100.000 ton batu bara per bulan.
Pada tahun sebelumnya, produksi batu bara dari Kalimantan Tengah tercatat sekitar 45,78 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.
Besarnya volume produksi dan ekspor membuat kondisi Sungai Barito memiliki arti penting bagi keberlangsungan rantai pasok batu bara.
Apabila kondisi air rendah berlangsung dalam periode panjang, industri perlu melakukan penyesuaian terhadap pola pengangkutan dan jadwal pengiriman.
Bagi sektor pertambangan, fenomena ini menjadi pengingat bahwa faktor cuaca dan kondisi hidrologis memiliki pengaruh langsung terhadap kegiatan logistik.



