Gangguan pengiriman batu bara dari Indonesia turut memperketat pasokan di pasar China dan mendorong kenaikan harga batu bara global. Kondisi ini terjadi ketika produksi domestik China melambat, sementara kebutuhan energi diperkirakan meningkat menjelang musim dingin.
Mengutip Mining.com, pengiriman batu bara Indonesia ke China dilaporkan turun tajam sepanjang 2026. Salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan pasokan adalah kebijakan pemerintah Indonesia untuk membatasi produksi batu bara guna memulihkan harga komoditas dan meningkatkan penerimaan negara.
Selain kebijakan produksi, kendala logistik di wilayah pertambangan Indonesia juga memengaruhi kelancaran distribusi. Kondisi cuaca kering yang dikaitkan dengan fenomena El Nino menyebabkan permukaan air sungai di sejumlah wilayah pertambangan batu bara menurun.
Situasi tersebut berdampak pada operasional kapal tongkang yang mengangkut batu bara melalui jalur sungai. Ketika permukaan air rendah, kapal harus mengurangi muatan agar dapat melintas dengan aman. Akibatnya, kapasitas pengangkutan berkurang dan pengiriman batu bara menuju titik pemuatan maupun pelabuhan ekspor menjadi lebih terbatas.
Gangguan pasokan dari Indonesia terjadi bersamaan dengan perlambatan produksi batu bara di China. Produksi domestik negara tersebut hingga Agustus 2026 turun lebih dari 3% secara tahunan.
Pengetatan pengawasan keselamatan tambang setelah kecelakaan fatal di Provinsi Shanxi pada Mei 2026 turut menghambat pemulihan produksi. Selain itu, rencana pemulihan kapasitas produksi tahunan sekitar 31 juta ton di Shanxi menghadapi keterlambatan akibat proses persetujuan pembukaan kembali tambang.
Tekanan pasokan juga diperkuat oleh pemeliharaan jalur kereta api utama pengangkut batu bara China yang dijadwalkan berlangsung hingga 26 Oktober 2026.
Dampak pengetatan pasokan terlihat pada harga batu bara termal China yang mencapai 1.004 yuan atau sekitar US$150 per ton pada Senin (12/10/2026). Harga tersebut menembus level 1.000 yuan untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir dan meningkat sekitar 25% sejak pertengahan Juli.
Kenaikan harga juga tercermin pada pasar internasional. Batu bara Newcastle untuk kontrak Desember 2026 naik US$1,05 menjadi US$152,75 per ton. Sementara itu, batu bara Rotterdam untuk kontrak November 2026 menguat US$1,25 menjadi US$148 per ton.
Dari sisi permintaan, konsumsi batu bara China umumnya meningkat selama musim dingin karena kebutuhan energi untuk pemanasan dan pembangkit listrik. Batu bara masih menyumbang sekitar separuh bauran listrik negara tersebut.
Kenaikan harga gas alam cair (LNG) di tengah konflik AS-Iran juga berpotensi meningkatkan daya tarik batu bara sebagai sumber energi alternatif.
Bagi Indonesia, kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebijakan pengendalian produksi, stabilitas harga, dan kelancaran distribusi. Hambatan pengangkutan melalui sungai dapat membatasi kemampuan pemasok memenuhi permintaan pasar, meskipun harga batu bara global sedang menguat.



