Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan terjaga selama periode libur panjang akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Kesiapsiagaan serta langkah mitigasi bencana geologi yang cepat dinilai menjadi kunci utama keberhasilan tersebut.
Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan, yang mewakili Menteri ESDM, menyampaikan bahwa seluruh potensi bencana geologi telah diantisipasi dengan baik melalui koordinasi lintas sektor dan respons cepat di lapangan.
“Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi; semuanya termitigasi dengan baik dan berjalan lancar berkat kerja keras kita semua,” tegas Yudhiawan.
Berdasarkan data teknis Posko Nasional Sektor ESDM, aktivitas vulkanik menjadi salah satu fokus utama pemantauan. Tercatat satu gunung api berstatus Awas (Level IV), yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, yang statusnya meningkat pada 1 Januari 2026. Selain itu, terdapat dua gunung berstatus Siaga (Level III), yakni Gunung Merapi dan Gunung Semeru, serta 24 gunung api lainnya berstatus Waspada (Level II).
Meski terjadi peningkatan aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah, koordinasi cepat antara Badan Geologi dan para pelaku usaha energi berhasil memastikan fasilitas-fasilitas vital tetap beroperasi dengan aman.
Di sektor kegeologian, tercatat 82 kejadian gerakan tanah yang tersebar di 17 provinsi. Ketua Posko Nasional Sektor ESDM, Erika Retnowati, menyebut bahwa langkah antisipatif serta pemetaan daerah rawan berperan penting dalam mencegah gangguan terhadap jalur distribusi energi.
“Alhamdulillah seluruh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan gerakan tanah tidak berdampak terhadap pasokan maupun kelancaran penyaluran energi baik BBM, gas, maupun listrik,” ujar Erika.
Sementara itu, dari sisi seismik, posko melaporkan 10 kejadian gempa bumi berkekuatan di atas magnitudo 5,0 serta 46 gempa bumi yang dirasakan masyarakat dengan magnitudo di bawah 5,0 selama periode 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Peristiwa paling menonjol adalah gempa merusak yang terjadi di sekitar Agam, Sumatera Barat, pada 28 Desember 2025.
Berkat respons cepat dan koordinasi antarlembaga, peristiwa tersebut tidak memicu tsunami dan dampak terhadap infrastruktur energi dapat diminimalkan.
Yudhiawan juga memberikan apresiasi atas kecepatan pengumpulan data dan solidnya koordinasi tim geologi di lapangan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi ini tidak terlepas dari sinergi lintas sektoral dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI dan Polri.
Menurut Yudhiawan, kolaborasi tersebut ibarat sapu lidi, yang akan lebih kuat jika disatukan dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan.
Ke depan, Kementerian ESDM menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan standar mitigasi dan kesiapsiagaan geologi guna menjamin kenyamanan masyarakat serta kelancaran aktivitas dunia usaha di seluruh wilayah Indonesia.

