Pemerintah mempercepat pembentukan ekosistem hidrogen nasional agar sejalan dengan Strategi Hidrogen Nasional dan Rencana Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN). Langkah ini juga menjadi bagian dari Program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, yang menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas utama.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa hidrogen bukan sekadar alat dekarbonisasi, tetapi fondasi transformasi ekonomi dan industrialisasi jangka panjang.
“Hidrogen hijau harus tersedia di pasar hampir 200 ton per tahun pada 2026. Itu KPI saya, dan kita harus mencapainya,” tegas Eniya dalam 4th Indonesia-Japan Hydrogen Ammonia Development Acceleration Forum di Jakarta.
Bukan Cuma Energi Bersih, Tapi Strategi Industri Masa Depan
Pengembangan hidrogen diproyeksikan menyasar sektor strategis seperti:
- Industri manufaktur
- Transportasi
- Pembangkit listrik
- Industri berorientasi ekspor
Ekosistem ini diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong industrialisasi rendah karbon yang kompetitif di pasar global.
Tiga Fase Menuju Indonesia Masyarakat Hidrogen
Implementasi ekosistem hidrogen dirancang bertahap agar regulasi, infrastruktur, dan pasar tumbuh beriringan:
- Fase Inisiasi (2025–2034)
- Fase Pengembangan & Integrasi (2035–2045)
- Fase Akselerasi & Keberlanjutan (2045–2060)
Pendekatan ini memberi ruang evaluasi berkala sekaligus menjaga fleksibilitas kebijakan.
Jepang Jadi Mitra Strategis
Kolaborasi Indonesia–Jepang menjadi salah satu kunci percepatan. Melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), kedua negara menyusun Peta Jalan Kolaborasi Indonesia-Jepang untuk Mempercepat Masyarakat Hidrogen-Amonia di Indonesia (HASI).
Senior Representative JICA Indonesia, Akira Sato, menilai arah kebijakan pemerintahan Prabowo jelas: memperkuat ketahanan energi dan pangan sambil menjaga stabilitas makroekonomi.
Kerja sama ini menggabungkan:
- Keunggulan teknologi dan pembiayaan Jepang
- Potensi energi terbarukan Indonesia
- Skala pasar domestik yang besar
Sinergi tersebut diharapkan mempercepat proyek hidrogen agar layak secara finansial dan menarik investasi global.
RHAN Jadi Kompas Komersialisasi
Kementerian ESDM telah merumuskan RHAN sebagai panduan menuju komersialisasi hidrogen dan amonia. Peta jalan ini menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen dan eksportir hidrogen hijau di masa depan.
Jika target 200 ton hidrogen hijau pada 2026 tercapai, Indonesia akan menempatkan diri sebagai pemain awal dalam ekonomi hidrogen Asia Tenggara.
Menuju Era Energi Baru
Langkah agresif membangun ekosistem hidrogen menunjukkan arah baru transisi energi Indonesia: tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga menciptakan industri masa depan yang berdaya saing global.
Hidrogen kini bukan sekadar wacana. Pemerintah ingin memastikan komoditas ini benar-benar hadir di pasar dan menjadi bagian nyata dari bauran energi nasional.



