Sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sepanjang tahun 2025 terus mengupayakan tercapainya swasembada energi nasional guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan dan dinamika, Kementerian ESDM tetap hadir dan mencatatkan sejumlah capaian strategis.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi periode yang penuh ujian bagi sektor energi dan sumber daya mineral. Namun, tantangan tersebut justru mempertegas komitmen pemerintah dalam menjalankan mandat Presiden.
“Tahun 2025 ini adalah tahun yang penuh cobaan dan dinamika, khususnya bagi kami di Kementerian ESDM. Tapi bagi kami, setiap ada tantangan, justru di situlah harus ada kehadiran kita dalam rangka mewujudkan apa yang menjadi target dari Bapak Presiden,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 di Jakarta.
Di sektor hulu migas, capaian signifikan berhasil ditorehkan. Rata-rata lifting minyak bumi tahun 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari (MBOPD) atau 100,05 persen dari target APBN. Sementara itu, lifting gas bumi mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), meskipun masih di bawah target APBN sebesar 1.005 MBOEPD.
Meski demikian, seluruh kebutuhan gas nasional pada 2025 dipenuhi dari produksi dalam negeri tanpa impor. Dari total produksi gas sebesar 5.600 BBTUD, sebanyak 3.908 BBTUD atau 69 persen dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, termasuk hilirisasi, kelistrikan, LNG, LPG, BBG, jargas, serta peningkatan produksi migas. Sisanya sebesar 1.691 BBTUD atau 31 persen dialokasikan untuk ekspor.
Capaian lainnya terlihat pada Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM yang melampaui target APBN 2025. PNBP tercatat mencapai Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target. Kontribusi tersebut berasal dari PNBP SDA mineral dan batubara, panas bumi, serta sektor lainnya seperti layanan BLU, DMO migas dan batubara, jasa ketenagalistrikan, pemanfaatan BMN, hingga denda dan jasa layanan lainnya.
“Saya harus jujur mengatakan bahwa ini kerja tim. Kerja-kerja yang membutuhkan inovasi, konsentrasi, dan totalitas. Negara membutuhkan dana untuk membiayai program-program kerakyatan,” tegas Bahlil.
Dari sisi investasi, total realisasi investasi sektor ESDM sepanjang 2025 mencapai USD31,7 miliar. Angka tersebut terdiri dari subsektor migas sebesar USD18 miliar, minerba USD6,7 miliar, ketenagalistrikan USD4,6 miliar, serta EBTKE sebesar USD2,4 miliar. Untuk mendorong peningkatan investasi, pemerintah akan menugaskan PT PLN (Persero) mempercepat pembangunan pembangkit listrik sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Di subsektor minerba, produksi batubara nasional mencapai 790 juta ton. Dari jumlah tersebut, 32 persen dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, 65,1 persen atau sekitar 514 juta ton diekspor, dan sisanya sebesar 2,8 persen atau 22 juta ton menjadi stok.
Sementara itu, bauran energi baru terbarukan (EBT) sepanjang 2025 mencapai 15,75 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Total kapasitas terpasang EBT hingga Desember 2025 mencapai 15.630 MW, dengan tambahan kapasitas terbesar dalam lima tahun terakhir. Kapasitas tersebut berasal dari hidro, bioenergi, panas bumi, surya, gasifikasi batubara, angin, sampah, dan sumber EBT lainnya.
Kementerian ESDM juga mewajibkan implementasi kebijakan B40, yakni campuran 40 persen biodiesel berbasis sawit dan 60 persen solar. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, realisasi pemanfaatan biodiesel mencapai 14,2 juta kL atau 105,2 persen dari target. Kebijakan ini menurunkan impor solar hingga 3,3 juta kL, menghemat devisa sebesar Rp130,21 triliun, menurunkan emisi 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen, serta meningkatkan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun.
Di sektor ketenagalistrikan, konsumsi listrik per kapita masyarakat Indonesia pada 2025 mencapai 1.584 kWh atau 108,2 persen dari target. Kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional juga meningkat 7 GW dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 107,51 GW.
Untuk memperluas akses listrik, pemerintah menjalankan Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sepanjang 2025, Program Lisdes telah melistriki 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi, sementara BPBL telah menjangkau 205.968 rumah tangga.
“Arahan dari Bapak Presiden Prabowo, sampai 2029–2030 semua desa dan dusun harus sudah berlistrik. Kehadiran listrik itu adalah bentuk kehadiran sosial negara,” tegas Bahlil.
Sepanjang 2025, pemerintah juga menerbitkan berbagai regulasi strategis untuk mereformasi sektor ESDM, antara lain terkait pertambangan inklusif, sumur minyak masyarakat, tata kelola RKAB, serta percepatan pengembangan EBT.
Selain itu, sektor ESDM turut berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja. Tercatat sebanyak 871.574 tenaga kerja terserap di subsektor migas, minerba, ketenagalistrikan, dan EBTKE, sebagai bentuk nyata peran negara dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.

