Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat pemulihan distribusi Liquified Petroleum Gas (LPG) di wilayah terdampak bencana, khususnya di Provinsi Aceh. Upaya ini dilakukan untuk memastikan pasokan LPG tetap aman sekaligus menindaklanjuti laporan kemacetan dan antrean di sejumlah titik layanan.
Ketua Tim ESDM Siaga Bencana, Rudy Sufahriadi, mengatakan bahwa Aceh masih menjadi fokus utama karena beberapa jalur distribusi utama belum bisa dilalui.
“Kami lakukan upaya ekstra di Aceh karena jalur distribusi masih terputus. Sementara untuk Sumatera Barat dan Sumatera Utara, penyaluran LPG sudah berangsur membaik,” ujar Rudy di Jakarta.
Berdasarkan data lapangan, rata-rata penyaluran LPG di Aceh selama periode 1–13 Desember 2025 mencapai 301 metrik ton (MT) per hari. Dari jumlah tersebut, LPG bersubsidi atau Public Service Obligation (PSO) disalurkan rata-rata 247 MT per hari, sedangkan LPG non-PSO mencapai 53 MT per hari.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan, terutama untuk LPG non-PSO yang pada kondisi normal hanya sekitar 23 MT per hari. Peningkatan ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat di masa darurat.
Salah satu kendala terbesar adalah terputusnya jalur distribusi dari Terminal LPG Arun menuju Aceh Besar. Untuk mengatasi hal tersebut, Tim Siaga Bencana ESDM menerapkan pola distribusi alternatif.
“Untuk wilayah yang masih terisolir seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah, penyaluran LPG Bright Gas dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter BNPB dengan metode sling load,” jelas Rudy.
Sementara itu, kondisi penyaluran LPG di Sumatera Barat dan Sumatera Utara terpantau stabil. Di Sumatera Barat, rata-rata penyaluran LPG pada periode yang sama mencapai 516 MT per hari, sedikit lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sebesar 506 MT per hari. Jumlah ini terdiri dari LPG PSO sebesar 492 MT per hari dan LPG non-PSO 24 MT per hari.
Di Sumatera Utara, penyaluran LPG bahkan meningkat menjadi rata-rata 1.773 MT per hari, dibandingkan kondisi normal 1.663 MT per hari. Angka tersebut terdiri atas LPG PSO sebesar 1.741 MT per hari dan LPG non-PSO 32 MT per hari.
Rudy menambahkan, seluruh Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di tiga provinsi tersebut sudah kembali beroperasi. Di Aceh terdapat 11 SPBE, Sumatera Utara 46 SPBE, dan Sumatera Barat 14 SPBE. Untuk tingkat agen, Sumatera Barat dan Sumatera Utara sudah beroperasi penuh masing-masing 172 dan 383 agen, sementara di Aceh masih terdapat 14 agen yang belum beroperasi dari total 133 agen.
Dari sisi distribusi, PT Pertamina Patra Niaga juga menambah dukungan logistik. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengatakan pihaknya mengoperasikan dua kapal roro dengan rute Lhokseumawe–Banda Aceh dan akan menambah satu kapal lagi.
“Hari ini kami juga memberangkatkan lima truk tangki dari Dumai, Sumatera Bagian Selatan, dan Jawa Barat menuju Lhokseumawe untuk tambahan pasokan ke Banda Aceh. Ke depan akan menyusul sembilan truk tangki tambahan,” ujarnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap distribusi LPG di wilayah terdampak bencana dapat segera kembali normal dan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

