Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) serta kekhawatiran warga untuk mendapatkan LPG tabung 3 kilogram menjadi pemandangan yang muncul dalam beberapa hari terakhir di Sintang, Kalimantan Barat.
Gangguan distribusi energi ini terjadi akibat kendala operasional serta faktor geografis yang memengaruhi jalur pengiriman bahan bakar. Situasi tersebut sempat membuat pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG tersendat di sejumlah wilayah.
Merespons kondisi itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi langsung bergerak cepat untuk memastikan distribusi energi kembali berjalan normal.
Pemerintah Turun Langsung ke Lapangan
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman melakukan monitoring langsung ke Integrated Terminal Pontianak guna mengevaluasi kondisi pasokan dan distribusi BBM serta LPG di wilayah Kalimantan Barat.
Dalam kunjungan tersebut, ia menegaskan pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan energi yang memadai.
“Kami hadir langsung di Pontianak untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan tepat. Kita harus memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik dan solusi yang cepat,” ujarnya.
Infrastruktur Energi Sebenarnya Cukup Kuat
Secara infrastruktur, pasokan energi di Kalimantan Barat sebenarnya didukung sejumlah fasilitas strategis.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Integrated Terminal Pontianak
- Fuel Terminal Sintang
- Fuel Terminal Ketapang
Selain itu, jaringan distribusi energi di wilayah ini juga mencakup:
- 151 SPBU
- 116 agen LPG tabung 3 kilogram
- 4.280 pangkalan LPG tabung 3 kilogram
Untuk kapasitas penyimpanan, regional Kalimantan memiliki stok sekitar 526.479 kiloliter BBM dan 7.720 metrik ton LPG, yang menjadi penopang utama ketahanan energi di kawasan tersebut.
Kendala Sungai dan Operasional
Meski pasokan cukup, distribusi ke sejumlah wilayah sempat terganggu.
Laode menjelaskan salah satu penyebabnya adalah tidak beroperasinya jobber BBM di wilayah Sanggau serta pendangkalan alur Sungai Melawi yang menjadi jalur distribusi penting menuju Sintang.
Kondisi tersebut membuat pengiriman BBM ke beberapa daerah mengalami keterlambatan.
Mitigasi Cepat Dilakukan
Untuk mengatasi masalah ini, Ditjen Migas bersama badan usaha terkait langsung melakukan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya:
- Mengoptimalkan suplai dari Integrated Terminal Pontianak
- Menambah armada mobil tangki dari wilayah lain
- Mengoptimalkan sumber daya manusia di lapangan
- Menambah empat titik peristirahatan distribusi untuk menjaga kelancaran pasokan
Pemerintah juga memperkuat distribusi energi dengan mengerahkan armada tambahan.
Secara keseluruhan, wilayah Kalimantan saat ini didukung oleh sekitar 739 unit mobil tangki BBM serta 104 unit skid tank LPG untuk melayani kebutuhan masyarakat dan sektor industri.
Pasokan Ditargetkan Segera Normal
Dengan berbagai langkah percepatan distribusi tersebut, pemerintah optimistis pasokan BBM dan LPG tabung 3 kilogram di Sintang dan wilayah Kalimantan Barat lainnya segera kembali stabil.
Kehadiran pemerintah secara langsung di lapangan disebut menjadi bukti komitmen untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.



