
Meski dunia terus mendorong transisi ke energi bersih, data terbaru menunjukkan bahwa listrik global masih didominasi oleh sumber energi lama. Sepanjang tahun 2024, batu bara tetap menjadi sumber utama pembangkit listrik dunia dengan pangsa mencapai 35,4%.
Data yang dihimpun Visual Capitalist menunjukkan bahwa gas alam menyusul di posisi kedua dengan kontribusi 22,4%. Di sisi lain, energi terbarukan mulai menunjukkan taringnya. Tenaga air menyumbang 14,4% pasokan listrik global, disusul angin 7,8%, dan surya 6,5%. Secara keseluruhan, ketiga sumber terbarukan tersebut kini menyuplai lebih dari seperempat kebutuhan listrik dunia.
Berikut adalah urutan sumber listrik global berdasarkan pangsa kontribusi tahun 2024:
- Batu Bara – 35,4%
- Gas Alam – 22,4%
- Tenaga Air – 14,4%
- Nuklir – 9,0%
- Angin – 7,8%
- Surya – 6,5%
- Lainnya (minyak, biomassa, geothermal) – 4,5%
Energi nuklir masih bertahan di angka 9%, sebagian besar berkat negara-negara seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Tiongkok. Sementara itu, kategori lain seperti minyak, biomassa, dan panas bumi secara total menyumbang 4,5% pasokan listrik dunia.
Transisi Energi yang Belum Merata
Meskipun ada pertumbuhan di sektor energi terbarukan, transisi energi global belum menunjukkan pergeseran total. Negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara semakin agresif menekan emisi karbon, sehingga porsi listrik dari angin, surya, dan nuklir lebih menonjol di wilayah tersebut.
Sebaliknya, negara berkembang masih dihadapkan pada tantangan besar. Kebutuhan akan energi murah untuk mendukung industrialisasi membuat batu bara tetap menjadi pilihan utama, meski berdampak buruk pada lingkungan.
Faktor Geopolitik dan Harga Energi
Selain faktor kebijakan, dinamika harga dan geopolitik turut memengaruhi peta energi dunia. Krisis energi yang terjadi setelah perang Rusia-Ukraina menyebabkan lonjakan harga gas alam. Kondisi ini memaksa beberapa negara untuk kembali mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang sebelumnya telah dipensiunkan.
Situasi ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga erat kaitannya dengan kestabilan geopolitik dan kemampuan masyarakat dalam menanggung biaya energi.
Meski batu bara dan gas alam masih memimpin, arah perubahan menuju energi terbarukan kian jelas. Tren ini menjadi sinyal bahwa masa depan energi bersih tinggal menunggu waktu untuk mengambil alih.