Volume ekspor batu bara Indonesia mengalami penurunan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan tersebut adalah gangguan logistik akibat rendahnya permukaan air sungai di Kalimantan, yang menghambat proses pengiriman batu bara dari wilayah pertambangan menuju pelabuhan ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia selama delapan bulan pertama 2026 mencapai 227,70 juta ton. Angka ini turun 9,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai 251,13 juta ton.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, menjelaskan bahwa penurunan ekspor batu bara berkaitan dengan pembatasan kuota produksi serta gangguan logistik di sejumlah wilayah pertambangan.
“Penurunan ekspor batu bara berkaitan dengan pembatasan kuota produksi dan gangguan logistik akibat rendahnya permukaan air sungai di Kalimantan yang menghambat pengiriman,” ujar Faisal.
Kondisi sungai menjadi faktor penting dalam rantai distribusi batu bara di Kalimantan. Pengangkutan dari sejumlah wilayah pertambangan sangat bergantung pada jalur sungai sebelum batu bara dibawa menuju titik pemuatan atau pelabuhan ekspor.
Ketika permukaan air sungai menurun, pergerakan tongkang pengangkut batu bara menjadi terbatas. Situasi ini dapat memperlambat pengiriman dan memengaruhi kelancaran distribusi dari lokasi tambang menuju pasar internasional.
Selain kendala logistik, pembatasan kuota produksi juga menjadi tantangan bagi ketersediaan batu bara untuk ekspor. Kombinasi kedua faktor tersebut turut menekan volume pengiriman di tengah dinamika pasar komoditas global.
Tekanan terhadap batu bara juga terlihat dalam kinerja ekspor sektor pertambangan secara keseluruhan. Pada Agustus 2026, ekspor pertambangan dan lainnya tercatat sebesar US$2,79 miliar, turun 19,47% dibandingkan US$3,47 miliar pada Agustus 2025.
Di sisi lain, Faisal mengingatkan bahwa prospek ekspor Indonesia masih menghadapi tantangan akibat kecenderungan melemahnya permintaan global serta ketidakpastian geopolitik dan perdagangan internasional.
“Ketidakpastian tersebut dapat makin mengganggu rantai pasok global dan membebani ekspor Indonesia,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor batu bara tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan dan harga di pasar internasional, tetapi juga oleh kapasitas produksi serta kelancaran rantai logistik di dalam negeri.
Perbaikan distribusi, termasuk mengantisipasi kendala pengangkutan melalui sungai, menjadi salah satu aspek penting untuk menjaga kelancaran pengiriman batu bara Indonesia ke pasar global.



