Fenomena El Niño mulai memberikan dampak terhadap aktivitas transportasi batu bara di Kalimantan. Penurunan debit air di Sungai Mahakam membuat perusahaan angkutan sungai harus menyesuaikan kapasitas muatan tongkang demi menjaga keselamatan pelayaran.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Sungai Mahakam merupakan salah satu jalur utama pengangkutan batu bara di Kalimantan Timur.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda, Mursidi, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan perusahaan dan pemilik pelabuhan untuk membatasi muatan batu bara pada tongkang.
Dalam kondisi normal, satu tongkang dapat mengangkut sekitar 7.000 ton batu bara. Namun, akibat debit Sungai Mahakam yang mengalami penyusutan, kapasitas tersebut perlu dikurangi menjadi sekitar 5.500 hingga 6.000 ton.
“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal,” kata Mursidi.
Menurutnya, pengurangan muatan berkaitan langsung dengan kedalaman alur sungai dan draft kapal.
Jika tongkang membawa muatan terlalu berat saat kondisi air sedang surut, bagian bawah kapal akan semakin dalam sehingga berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran.
“Kalau normalnya itu misalnya satu tongkang 7.000 ton, maka harus dikurangi menjadi misalnya 5.500 atau 6.000, karena draft-nya nanti akan mempengaruhi pada alur. Ditakutkan nanti ada kejadian kecelakaan, kandas kapal dan sebagainya,” tegasnya.
Penyesuaian tersebut menjadi langkah antisipasi agar aktivitas pengangkutan batu bara tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Sungai Mahakam sendiri memiliki peran penting dalam rantai distribusi batu bara di Kalimantan Timur. Aktivitas pelayaran di sungai tersebut sangat padat, dengan lebih dari 200 tongkang dilaporkan melintas setiap harinya.
Besarnya aktivitas tersebut juga menggambarkan posisi transportasi sungai dalam mendukung pergerakan komoditas batu bara dari wilayah produksi menuju terminal dan pasar tujuan.
Fenomena El Niño membuat kondisi debit sungai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan industri pertambangan. Selain berdampak pada kelancaran logistik, perubahan muka air juga dapat memengaruhi kapasitas angkut, waktu perjalanan dan biaya operasional.
Karena itu, pemantauan kondisi sungai menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok batu bara di tengah perubahan kondisi cuaca.



