Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, membawa target ekonomi yang cukup besar. Fasilitas yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) tersebut ditargetkan memproduksi sekitar 2 juta ton metanol setiap tahun.
Proyek ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi batu bara pemerintah dan dijadwalkan memasuki tahap peletakan batu pertama pada Senin, 31 Agustus 2026, di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, proyek tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan batu bara berkalori rendah sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk metanol impor.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, fasilitas ini akan mengolah sekitar 7,70 juta hingga 7,78 juta ton batu bara per tahun dengan kalori sekitar 3.400 kcal/kg.
Batu bara tersebut kemudian diproses menjadi metanol dengan standar internasional International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Target produksi mencapai sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Produk tersebut nantinya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik.
Potensi penghematan devisa menjadi salah satu alasan strategis pembangunan fasilitas tersebut.
Pada 2025, Indonesia masih tercatat mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol dengan nilai mencapai Rp7,1 triliun.
Jika sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui produksi dalam negeri, proyek gasifikasi berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengurangan impor sekaligus menjaga perputaran nilai ekonomi di dalam negeri.
Metanol yang dihasilkan nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan berbagai industri, terutama sektor petrokimia dan formaldehida.
Pengembangannya juga diharapkan mendukung kebutuhan bahan baku untuk pengembangan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) serta program B50.
Menurut Yuliot, hilirisasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan produk baru dari batu bara. Lebih jauh, proyek ini diharapkan menciptakan efek berganda bagi berbagai sektor.
“Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplier effect yang nyata bagi seluruh stakeholder, baik penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi,” kata Yuliot.
Proyek BEC dikembangkan oleh perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dengan pemanfaatan lahan sekitar 93 hektare.
Dengan skala investasi dan produksi yang besar, proyek ini menjadi salah satu gambaran arah baru industri batu bara Indonesia: tidak berhenti pada kegiatan ekstraksi, tetapi bergerak menuju pengolahan dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.



