Pemanfaatan batu bara berkalori rendah terus diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Salah satunya melalui proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang dikembangkan di Kalimantan Timur.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama proyek strategis nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol pada 31 Agustus 2026.
Proyek tersebut berlokasi di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, teknologi gasifikasi memungkinkan batu bara dengan kalori rendah yang selama ini memiliki nilai ekonomi relatif rendah untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai strategis bagi industri.
Batu bara tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar, tetapi diproses menjadi metanol yang dibutuhkan berbagai sektor industri.
Proyek ini ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Produksi tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap metanol impor.
“Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan energi,” ujar Yuliot.
Proyek gasifikasi ini dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Pembangunan fasilitas tersebut akan memanfaatkan lahan sekitar 93 hektare di kawasan BCIP.
Kementerian ESDM berharap proyek BEC dapat menjadi salah satu model pengembangan hilirisasi batu bara di Indonesia. Pasalnya, potensi batu bara berkalori rendah masih cukup besar, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Bagi sektor pertambangan, pengembangan teknologi seperti ini menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi komoditas batu bara dari sekadar bahan bakar menjadi bahan baku industri bernilai tambah.
Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya berbicara tentang peningkatan nilai ekonomi komoditas, tetapi juga bagaimana sumber daya alam dapat memberikan manfaat lebih luas bagi industri dan perekonomian nasional.



