Harga batu bara kembali menunjukkan penguatan signifikan di perdagangan Jumat (4/9/2026). Kenaikan terjadi di tengah meningkatnya permintaan pembangkit listrik berbasis batu bara di sejumlah negara Asia.
Mengacu pada data perdagangan, batu bara Newcastle kontrak September 2026 naik US$1,65 menjadi US$148,65 per ton. Penguatan lebih besar terjadi pada kontrak Oktober yang melonjak US$2,65 ke level US$153 per ton.
Sementara kontrak November 2026 naik US$2,70 dan berada di posisi US$154,05 per ton.
Kenaikan juga terjadi pada batu bara Rotterdam. Kontrak September 2026 menguat US$2,55 menjadi US$138,25 per ton. Kontrak Oktober naik US$3,25 menjadi US$139,70 per ton, sedangkan kontrak November meningkat US$2,55 menjadi US$139,35 per ton.
Penguatan harga tersebut tidak terlepas dari perubahan strategi sejumlah perusahaan listrik di Asia. Ketika harga gas alam cair atau LNG mengalami lonjakan, batu bara kembali dipandang sebagai salah satu sumber energi yang dapat menopang keandalan pasokan listrik.
Dikutip dari EnergyNow, utilitas di sejumlah negara Asia meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara untuk menekan biaya sekaligus menjaga keamanan pasokan energi.
Situasi pasar energi global turut memberikan dorongan. Harga LNG spot Asia dilaporkan melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Gangguan pengiriman LNG melalui kawasan strategis Timur Tengah, termasuk terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz dan penghentian pengiriman dari Qatar, menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap pasar gas.
Kondisi tersebut membuat sejumlah negara kembali memperhitungkan batu bara sebagai sumber energi alternatif untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan.
Bagi industri batu bara, meningkatnya kebutuhan pembangkitan listrik di Asia menjadi sinyal penting terhadap pergerakan permintaan global. Perkembangan harga Newcastle dan Rotterdam juga menjadi indikator yang terus diperhatikan pelaku industri karena berpengaruh terhadap dinamika perdagangan batu bara internasional.



