Lonjakan harga liquefied natural gas (LNG) di Asia mulai mengubah peta pembangkitan listrik. Sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu bara untuk menjaga pasokan listrik sekaligus menekan biaya energi.
Perubahan tersebut terjadi ketika harga LNG spot Asia melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Gangguan pasokan LNG akibat konflik dan ketegangan di Timur Tengah turut memperbesar tekanan terhadap pasar energi. Pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami gangguan, sementara Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, menghentikan pengiriman.
Situasi ini membuat sejumlah utilitas di Asia mencari alternatif untuk menjaga keandalan pembangkit. Batu bara kemudian kembali menjadi pilihan, khususnya bagi negara yang memiliki pembangkit batu bara dan akses terhadap pasokan domestik maupun impor.
Di Asia Selatan, Bangladesh tercatat meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara sekaligus meningkatkan impor listrik dari pembangkit berbahan bakar batu bara.
Pakistan juga mengambil langkah serupa. Menteri Energi Pakistan Awais Leghari mengatakan berkurangnya pembangkitan berbasis LNG akan memberikan ruang lebih besar bagi pembangkit yang menggunakan batu bara domestik.
Dengan berkurangnya penggunaan LNG, pembangkit berbahan bakar batu bara dari tambang dalam negeri dapat meningkatkan produksi, terutama pada periode di luar jam beban puncak.
Perubahan pola energi juga terlihat di Asia Tenggara.
Filipina meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara sambil mengurangi produksi dari pembangkit berbahan bakar LNG. Di Vietnam, perusahaan listrik EVN tengah melakukan negosiasi pasokan batu bara.
Thailand juga meningkatkan pembangkitan dari salah satu pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di negaranya untuk menghemat penggunaan LNG yang pasokannya sedang terganggu.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa keamanan energi masih menjadi faktor utama dalam menentukan bauran pembangkitan listrik. Ketika harga dan pasokan gas mengalami tekanan, batu bara kembali memiliki peran penting sebagai sumber energi penyangga.
Bagi industri batu bara, kondisi ini berpotensi menjaga permintaan di pasar Asia selama tekanan terhadap pasokan LNG masih berlangsung.



