Batu bara kembali mendapatkan momentum di tengah perubahan peta energi Asia. Sejumlah negara meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara setelah harga dan pasokan LNG mengalami tekanan akibat gangguan di pasar energi global.
Kondisi tersebut tercermin dari penguatan harga batu bara Newcastle dan Rotterdam pada perdagangan Jumat (4/9/2026).
Batu bara Newcastle kontrak November 2026 bahkan mencapai US$154,05 per ton setelah menguat US$2,70. Kontrak Oktober berada di US$153 per ton, sedangkan kontrak September mencapai US$148,65 per ton.
Di pasar Rotterdam, kontrak September tercatat US$138,25 per ton. Kontrak Oktober berada di US$139,70 per ton dan kontrak November mencapai US$139,35 per ton.
Penguatan harga ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan pembangkit listrik batu bara di sejumlah negara Asia.
Pakistan, misalnya, berencana meningkatkan pembangkitan dari sumber energi domestik. Kebijakan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi pembangkit berbahan bakar batu bara domestik ketika penggunaan LNG berkurang.
Sementara itu, Filipina meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara. Vietnam juga tengah melakukan negosiasi pasokan batu bara melalui perusahaan listrik nasional EVN.
Thailand mengambil langkah serupa dengan meningkatkan pembangkitan dari pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di negaranya. Tujuannya antara lain menghemat penggunaan LNG yang pasokannya sedang mengalami gangguan.
Perubahan kebijakan energi juga terlihat di Asia Timur.
Korea Selatan berencana menghapus batas atas pembangkitan listrik berbasis batu bara sekaligus meningkatkan pembangkitan tenaga nuklir.
Di Jepang, JERA, perusahaan utilitas terbesar di negara tersebut, menyatakan akan mempertahankan tingkat utilisasi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pada level tinggi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa batu bara masih memiliki posisi strategis dalam menjaga keamanan energi, terutama ketika sumber energi alternatif menghadapi persoalan harga dan pasokan.
Bagi industri pertambangan batu bara, meningkatnya permintaan pembangkit di Asia menjadi perkembangan yang patut dicermati. Asia tetap menjadi salah satu kawasan penting dalam perdagangan batu bara global, sehingga perubahan bauran energi di negara-negara tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap permintaan dan harga komoditas.
Perkembangan pasar ini sekaligus menunjukkan pentingnya efisiensi produksi, pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, serta kemampuan industri batu bara beradaptasi dengan dinamika kebutuhan energi global.



