Sebanyak 207 mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas resmi menyandang gelar sarjana terapan setelah mengikuti Wisuda Program Sarjana Terapan ke-55 Tahun Akademik 2025/2026 di Cepu, Jumat (17/7).
Namun, ada satu angka yang cukup menarik perhatian dalam wisuda kali ini. Tingkat keterserapan lulusan PEM Akamigas di dunia kerja terus meningkat dalam empat tahun terakhir.
Berdasarkan hasil tracer study, tingkat keterserapan lulusan naik dari 61 persen pada angkatan 2022 menjadi 90 persen pada angkatan 2025.
Tak berhenti di situ. Sebanyak 40 persen lulusan tahun 2026 bahkan sudah direkrut perusahaan sebelum mereka resmi mengikuti wisuda.
Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 27,1 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan industri terhadap tenaga vokasi di sektor energi masih terbuka lebar, sekaligus menjadi indikator bahwa kompetensi lulusan PEM Akamigas semakin sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
## 207 Lulusan dari Lima Program Studi
Sebanyak 207 wisudawan berasal dari lima program studi yang berkaitan langsung dengan industri energi.
Kelima program tersebut yakni Teknik Produksi Minyak dan Gas, Teknik Pengolahan Minyak dan Gas, Teknik Mesin Kilang, Teknik Instrumentasi Kilang, serta Logistik Minyak dan Gas.
Para lulusan berasal dari berbagai jalur pendidikan, mulai dari mahasiswa jalur mandiri, penerima beasiswa Kementerian ESDM hingga penerima beasiswa hasil kerja sama dengan pemerintah daerah dan mitra industri.
Dari total lulusan tersebut, 85 orang berhasil meraih predikat cum laude.
## Industri Makin Percaya Lulusan Vokasi
Direktur PEM Akamigas **Erdila Indriani** mengatakan meningkatnya penyerapan lulusan tidak terlepas dari penguatan pendidikan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Kurikulum PEM Akamigas diperkuat dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta program magang industri wajib selama enam bulan.
Menurut Erdila, pola pendidikan tersebut membuat mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung menghadapi dunia kerja.
“Kepercayaan masif dari dunia industri ini membuktikan bahwa metode pembelajaran berbasis praktik, kurikulum adaptif yang match dengan kebutuhan riil industri, serta sinergi erat dengan regulator dan pemerintah daerah sukses melahirkan SDM siap kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa juga dipersiapkan agar memiliki integritas dan karakter yang kuat untuk menghadapi tantangan sektor energi, termasuk perubahan menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
## SDM Jadi Kunci Ketahanan Energi
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika, yang mewakili Menteri ESDM, menegaskan bahwa ketahanan energi nasional tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya alam.
Indonesia juga membutuhkan tenaga terampil yang mampu mengelola sumber daya tersebut secara profesional.
Menurut Erani, penguatan SDM vokasi menjadi semakin penting karena pemerintah tengah menjalankan sejumlah program strategis di sektor energi.
“Melalui visi Asta Cita, ketahanan dan kedaulatan energi nasional menjadi prioritas mutlak. Implementasi program strategis nasional seperti Mandatori Biodiesel B50, persiapan Program E20 berbasis bioetanol, serta percepatan Proyek Strategis Nasional Lapangan Abadi Masela membutuhkan pasokan talenta vokasi yang kompeten dan adaptif di lapangan,” ungkapnya.
Ia mengatakan pembangunan sektor energi diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya energi dalam negeri, meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi, memperkuat bauran energi nasional, memperluas akses energi yang berkeadilan dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dengan tren penyerapan kerja yang terus meningkat, lulusan PEM Akamigas diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menjadi tenaga profesional yang mengisi kebutuhan industri energi Indonesia.
Bagi 207 wisudawan, hari wisuda bukan sekadar akhir masa kuliah. Bagi sebagian dari mereka, perjalanan memasuki dunia industri bahkan sudah dimulai sebelum toga dikenakan.


