Fokus Proyeksi Juli dan Risiko Harga minyak mentah Indonesia berpotensi kembali turun pada Juli 2026. Pemerintah memproyeksikan rata-rata **Indonesian Crude Price (ICP)** berada di kisaran **US$67 hingga US$71 per barel**.
Proyeksi tersebut muncul setelah ICP Juni 2026 ditetapkan sebesar **US$83,45 per barel**, turun signifikan dibandingkan Mei yang mencapai US$106,56 per barel.
Artinya, jika kondisi pasar terus mendukung, harga minyak Indonesia masih memiliki ruang untuk terkoreksi lebih dalam pada Juli.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM **Laode Sulaeman** mengatakan arah harga minyak ke depan tetap akan sangat bergantung pada perkembangan pasar internasional dan situasi geopolitik.
## Pasokan Mulai Longgar
Salah satu faktor yang berpotensi menekan harga adalah semakin lancarnya distribusi minyak setelah jalur strategis **Selat Hormuz** mulai dibuka kembali secara bertahap.
Sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah sempat meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dunia. Kondisi tersebut ikut mendorong harga minyak melonjak.
Namun, ketika tensi konflik Amerika Serikat, Israel dan Iran cenderung mereda sepanjang Juni, kekhawatiran pasar mulai berkurang.
Gencatan senjata dan pemulihan jalur distribusi kemudian memberikan ruang bagi pasokan minyak dunia untuk kembali bergerak.
Di saat yang sama, OPEC+ kembali meningkatkan produksi.
Rusia juga berencana meningkatkan pasokan minyak untuk memenuhi target produksi OPEC+ 2026.
Jika pasokan terus bertambah sementara pertumbuhan permintaan tidak mengalami lonjakan besar, harga minyak berpotensi kembali mendapat tekanan.
International Energy Agency (IEA) sendiri memproyeksikan permintaan minyak dunia tumbuh sekitar **1,1 juta barel per hari**.
## Tapi Harga Minyak Bisa Kembali Naik
Meski pemerintah melihat peluang penurunan ICP pada Juli, kondisi pasar minyak tidak sepenuhnya aman dari risiko kenaikan harga.
Salah satu ancaman terbesar adalah **eskalasi konflik baru di Timur Tengah**.
Jika kembali terjadi serangan yang mengganggu produksi maupun jalur distribusi minyak, pasar dapat kembali mengalami gejolak.
Kondisi tersebut berpotensi membalikkan tren penurunan harga yang terjadi sepanjang Juni.
Di sisi lain, peningkatan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah setelah pembukaan Selat Hormuz justru dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga.
Dengan kata lain, pasar minyak dunia saat ini berada di persimpangan.
**Pasokan yang meningkat bisa membuat harga makin murah, tetapi konflik baru dapat sewaktu-waktu mengerek harga kembali.**
## Pemerintah Pantau Tiga Faktor
Kementerian ESDM akan terus memantau setidaknya tiga faktor utama yang menentukan arah ICP, yakni **pasokan, permintaan dan geopolitik global**.
Ketiganya akan menjadi dasar pemerintah dalam melihat perkembangan harga minyak mentah Indonesia pada periode berikutnya.
“Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik,” ujar Laode.
Ia juga memastikan formula ICP tetap transparan dan mencerminkan dinamika pasar internasional.
Langkah tersebut penting agar perubahan harga minyak tetap dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi keuangan negara maupun bagi kegiatan usaha hulu migas.
Dengan proyeksi ICP Juli di kisaran US$67-US$71 per barel, perhatian kini tertuju pada perkembangan pasar minyak global.
Jika konflik tetap mereda dan pasokan semakin lancar, harga berpotensi melanjutkan tren penurunan.
Namun jika geopolitik kembali memanas, skenario tersebut bisa berubah dengan cepat.
Pasar minyak memang sedang lebih tenang, tetapi belum benar-benar aman dari kejutan.


