Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memengaruhi arah kebijakan energi sejumlah negara Asia. Salah satunya Vietnam yang kini mempertimbangkan memperbesar porsi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara demi menjaga ketahanan energi nasional.
Pemerintah Vietnam menyatakan konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah telah mengganggu keamanan pasokan gas alam cair (LNG), sehingga mendorong evaluasi terhadap Rencana Pengembangan Ketenagalistrikan Nasional.
Selama ini Vietnam menargetkan memiliki kapasitas pembangkit listrik berbasis LNG sebesar **22,5 gigawatt (GW)** pada 2030. Namun realisasinya masih jauh dari harapan, baru sekitar **7,3 persen** dari target tersebut akibat berbagai kendala investasi dan regulasi.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah membuka peluang memperbesar kontribusi batu bara dalam bauran energi nasional.
Langkah itu dinilai penting untuk menjaga pasokan listrik bagi sektor industri yang terus berkembang pesat. Vietnam sendiri merupakan salah satu pusat manufaktur terbesar di Asia Tenggara yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.
Data perusahaan listrik negara Vietnam (EVN) menunjukkan produksi listrik semester pertama 2026 mencapai **171,5 miliar kWh**, meningkat hampir 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, lebih dari separuh produksi listrik tersebut masih berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara.
Keputusan Vietnam ini diperkirakan akan ikut menopang permintaan batu bara di pasar internasional, termasuk terhadap pasokan dari Indonesia sebagai salah satu eksportir terbesar dunia.


