Di tengah gencarnya kampanye transisi energi global, Australia justru memproyeksikan industri batu bara metalurgi masih akan bertahan kuat hingga tahun 2031.
Dalam laporan prospek kuartalan Kementerian Industri, Sains, dan Sumber Daya Australia, negara tersebut diperkirakan tetap menjadi eksportir batu bara metalurgi terbesar dunia sepanjang periode 2025–2026 dengan volume ekspor mencapai 147 juta metrik ton.
Lebih dari 95 persen produksi batu bara metalurgi Australia dipasarkan ke luar negeri, sementara harga diperkirakan tetap stabil hingga awal dekade berikutnya.
Australia juga memperkirakan pertumbuhan permintaan akan bergeser dari China menuju India dan Asia Tenggara, seiring meningkatnya produksi baja di kawasan tersebut.
Meski konflik Timur Tengah meningkatkan biaya logistik dan asuransi pengiriman, perdagangan batu bara dunia diperkirakan tetap stabil selama tidak terjadi gangguan pasokan baru.


