Tambang terbuka Grasberg di Tembagapura, Papua, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di dunia, kini memasuki babak baru. Setelah menghentikan operasional tambang terbukanya pada April 2020, PT Freeport Indonesia terus melakukan reklamasi besar-besaran untuk mengembalikan kondisi lingkungan di kawasan tersebut.
Langkah pemulihan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mengembalikan fungsi ekologis area yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas pertambangan. Total target reklamasi yang disiapkan mencapai 920 hektare hingga beberapa tahun ke depan.
Manager Grasberg Surface Mine Engineering PT Freeport Indonesia, Sena Indra Wiraguna, mengungkapkan bahwa hingga saat ini perusahaan telah berhasil mereklamasi sekitar 570 hektare lahan atau setara 60 persen dari total target yang direncanakan.
“Area yang direklamasi telah ditumbuhi kembali vegetasi asli seperti rumput, lumut, hingga pakis yang memang sebelumnya hidup alami di kawasan Grasberg,” ujarnya.
### Kembalikan Alam Seperti Semula
Berbeda dengan program penghijauan pada umumnya, reklamasi di Grasberg tidak dilakukan dengan menanam berbagai jenis pohon baru. Hal ini karena lokasi tambang berada di kawasan pegunungan ekstrem dengan ketinggian sekitar 4.285 meter di atas permukaan laut.
Menurut Sena, mempertahankan vegetasi asli menjadi pilihan terbaik agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
“Jika kita memasukkan tanaman yang sebelumnya tidak pernah ada di kawasan ini, justru berpotensi merusak ekosistem alami yang sudah terbentuk selama ribuan tahun,” jelasnya.
Karena itu, proses reklamasi difokuskan pada pemulihan vegetasi endemik yang memang menjadi karakter alami kawasan Grasberg sebelum aktivitas pertambangan berlangsung.
### Satwa yang Hilang Mulai Kembali
Hasil reklamasi yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan dampak positif. Salah satu indikator keberhasilannya adalah mulai kembalinya sejumlah satwa liar yang sempat menghilang selama aktivitas tambang berlangsung.
Freeport mencatat kemunculan kembali beberapa spesies burung serta satwa khas Papua seperti singing dog atau anjing liar Papua yang dikenal sangat langka.
Kehadiran kembali satwa tersebut menjadi sinyal bahwa ekosistem perlahan mulai pulih dan mampu mendukung kehidupan flora maupun fauna di kawasan pegunungan tinggi Papua.
### Dana Reklamasi Fantastis
Untuk menjalankan program reklamasi tersebut, Freeport menyiapkan anggaran yang tidak sedikit. Perusahaan mengalokasikan dana rata-rata sekitar 200 ribu dolar Amerika Serikat per hektare atau setara miliaran rupiah untuk setiap hektare lahan yang dipulihkan.
Sena menjelaskan biaya reklamasi berbeda-beda tergantung kondisi medan dan tingkat kesulitan masing-masing lokasi.
“Ada yang membutuhkan sekitar USD180 ribu per hektare, ada juga yang mencapai USD250 ribu. Jadi rata-ratanya sekitar USD200 ribu per hektare,” ungkapnya.
### Target Berlanjut Hingga 2041
Pada tahun 2024, Freeport menargetkan reklamasi tambahan seluas 65 hektare. Sementara pada tahun 2025 dan 2026, perusahaan menargetkan pemulihan masing-masing 35 hektare per tahun.
Seluruh program tersebut telah disusun berdasarkan rencana reklamasi lima tahunan yang mengacu pada regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Tak hanya itu, PT Freeport Indonesia juga telah menyiapkan peta jalan reklamasi jangka panjang hingga tahun 2041. Dokumen tersebut akan terus diperbarui dan diajukan kepada Kementerian ESDM setiap lima tahun sekali sesuai ketentuan yang berlaku.
Transformasi Grasberg dari kawasan tambang raksasa menjadi area yang kembali hijau menjadi salah satu contoh bagaimana pemulihan lingkungan dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas industri ekstraktif. Meski membutuhkan waktu panjang dan biaya besar, upaya tersebut menjadi investasi penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

