Harga batu bara kembali memanas Penguatan yang mendekati level tertinggi sejak akhir Agustus ini menjadi sinyal kuat bahwa reli komoditas hitam belum kehilangan tenaga. Kenaikan tersebut bukan terjadi tanpa sebab pasar tengah digerakkan oleh kombinasi fundamental global, kebijakan energi China, serta bangkitnya permintaan di Asia dan Eropa.
Di pasar acuan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak November 2025 naik USD1,3 menjadi USD111,5 per ton. Kontrak Desember bahkan melonjak lebih tinggi, menguat USD1,75 ke posisi USD115,25. Sementara kontrak Januari 2026 ikut terapresiasi USD1,25 menuju USD115,4 per ton.
Kenaikan serempak tiga kontrak terdekat ini memperlihatkan bahwa pasar tidak hanya membaca kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mengantisipasi kuatnya permintaan hingga kuartal pertama 2026.
Namun dinamika berbeda justru terjadi di pasar Eropa. Harga batu bara Rotterdam kompak melemah kontrak November terkoreksi USD0,55 ke USD95,9, sementara kontrak Desember turun USD0,7 menjadi USD97,4. Kontrak Januari pun merosot USD0,9 ke USD98,25 per ton.
Divergensi antara Newcastle dan Rotterdam ini menjadi indikator bahwa penguatan pasar kali ini berakar kuat pada Asia, bukan pada pemulihan permintaan global secara menyeluruh.
China Jadi Penentu Arah Pasar
Pusat perhatian investor kembali tertuju pada China. Pernyataan Menteri Keuangan Lan Foan akhir pekan lalu yang menegaskan penguatan kebijakan fiskal untuk lima tahun ke depan langsung memantik optimisme pasar.
Bagi industri batu bara, komentar itu mengandung dua sinyal: peningkatan likuiditas fiskal untuk menopang pertumbuhan, serta jaminan stabilitas permintaan energi dari konsumen batu bara terbesar dunia.
Beijing menegaskan akan mengoptimalkan anggaran, perpajakan, obligasi pemerintah, hingga transfer fiskal untuk menjaga momentum ekonomi. Di saat yang sama, China kembali meneguhkan posisi PLTU batu bara sebagai pilar energi nasional, bahkan ketika wacana transisi energi terus digaungkan.
Target puncak permintaan (peak demand) yang tetap dipatok pada 2030 memperlihatkan bahwa transisi energi China tidak akan berlangsung seagresif yang diprediksi sebelumnya. Batu bara masih menjadi tulang punggung pasokan listrik, terutama di tengah ekspansi besar-besaran pusat data (data centers) yang membutuhkan energi stabil dan masif.
Asia Kokoh, Eropa Masih Rapuh
Di saat Eropa masih berkutat pada fluktuasi pasokan gas dan listrik musiman, Asia menunjukkan ketahanan permintaan yang jauh lebih kuat. Selain China, negara seperti India, Vietnam, hingga Filipina terus menjadi motor tambahan kebutuhan batu bara.
Sementara itu, produsen besar seperti Indonesia dan Australia belum memberi sinyal peningkatan suplai besar yang dapat menahan laju harga. Kombinasi ini menempatkan pasar batu bara dalam posisi bullish yang lebih terstruktur.
Dengan dukungan stimulus fiskal China, ketergantungan PLTU yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, serta permintaan Asia yang tetap solid, reli harga batu bara berpotensi berlanjut hingga musim dingin global dan memasuki awal 2026 selama tidak ada kejutan regulasi atau lonjakan suplai dari produsen utama.

