Indonesia semakin menunjukkan keseriusannya dalam beralih ke energi bersih. Kali ini, langkah besar diambil lewat penguatan fondasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Bertempat di Jakarta, pemerintah menggelar forum internasional bertajuk FIRST Workshop sebuah kolaborasi strategis antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang untuk mempersiapkan ekosistem energi nuklir nasional.
Workshop ini bukan sekadar diskusi biasa. Fokusnya jelas: menyiapkan sumber daya manusia (SDM), regulasi, hingga kesiapan industri untuk memastikan pengembangan nuklir berjalan aman dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa kerja sama internasional ini menjadi kunci dalam membangun sistem nuklir berstandar global.
Mulai dari desain reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR), hingga penguatan regulasi dan standar keselamatan, semua dipersiapkan secara matang.
“Nuklir menawarkan energi yang stabil, rendah emisi, dan bisa jadi penopang ekonomi jangka panjang,” ujar Dadan.
Teknologi SMR sendiri dinilai lebih fleksibel dan cocok untuk negara berkembang karena skalanya lebih kecil, adaptif, dan relatif lebih cepat dibangun.
Menariknya, tren ini bukan hanya terjadi di Indonesia.
Lima negara dengan konsumsi energi terbesar di Asia Tenggara Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang menyumbang hampir 89% kebutuhan energi kawasan, kini mulai serius melirik energi nuklir.
Kolaborasi pun diperkuat melalui jaringan kerja sama energi nuklir regional untuk mempercepat adopsi teknologi ini.
Pemerintah sudah memasang target yang cukup ambisius.
PLTN pertama di Indonesia ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2032, dengan kapasitas awal 250 Megawatt (MW).
Dalam jangka panjang, kontribusi energi nuklir diproyeksikan mencapai sekitar 12% dari bauran energi nasional pada 2060, dengan total kapasitas hingga 42 Gigawatt (GW).
Langkah ini sejalan dengan kebijakan energi nasional yang menempatkan nuklir sebagai bagian penting dari strategi ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi.
Selain membantu menekan emisi karbon, energi nuklir juga dinilai unggul dari sisi efisiensi lahan dan biaya operasional jangka panjang.
Dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat, nuklir dipandang sebagai solusi untuk memastikan pasokan energi tetap stabil tanpa membebani lingkungan.
Kerja sama internasional menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan nuklir Indonesia.
Perwakilan Amerika Serikat, Peter M. Haymond, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Indonesia membangun energi nuklir yang aman dan tangguh.
Sementara itu, Jepang melalui Mitsuru Myochin menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi Indonesia lewat kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).
Jepang sendiri dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan teknologi nuklir dengan standar keselamatan tinggi.
FIRST Workshop ini juga mempertemukan berbagai pihak penting, mulai dari pemerintah, akademisi, industri, hingga pakar energi nuklir.
Mereka membahas berbagai aspek krusial, seperti:
- Teknologi reaktor SMR
- Regulasi dan perizinan
- Pengembangan SDM
- Peluang industri nasional
Tujuannya jelas: memastikan Indonesia tidak hanya siap secara teknologi, tapi juga dari sisi manusia dan kebijakan.
Langkah Indonesia menuju energi nuklir bukan lagi wacana tapi sudah masuk tahap serius dan terencana.
Dengan dukungan global, strategi matang, dan target yang jelas, Indonesia bersiap memasuki era baru: energi bersih, stabil, dan berkelanjutan berbasis nuklir.
Jika semua berjalan sesuai rencana, 2032 bisa jadi titik awal transformasi besar sistem energi nasional.




