Produksi batu bara Indonesia makin ngebut menjelang akhir tahun. Hingga Oktober 2025, output nasional telah mencapai 661,18 juta ton, atau 89,38% dari target produksi 2025 yang dipatok 739,6 juta ton.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Haryanto Damanik, menyebut industri optimistis target akan tercapai.
“Target sampai akhir tahun kurang lebih 740 juta ton,” ujarnya.
Meski demikian, capaian tahun ini dipastikan belum bisa menyamai performa 2024 yang menembus 836 juta ton. Tren penurunan produksi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang sedang mengkaji pengurangan kuota produksi batu bara untuk 2026.
“Nanti kita mau lihat korelasinya dengan rencana pemerintah untuk mengurangi produksi di 2026,” kata Haryanto.
DMO Lampaui 75%, Ekspor Sudah 83,6% dari Target
APBI juga mencatat realisasi pasokan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) telah mencapai 180,98 juta ton, atau 75,51% dari target 239,6 juta ton.
Sementara ekspor batu bara RI telah menyentuh 418 juta ton, setara 83,6% dari kuota ekspor tahun ini yang dipatok 500 juta ton.
Haryanto menyebut permintaan global memang berubah. Konsumsi batu bara China dan India sedang melemah, namun pasar Asean justru menunjukkan tren meningkat.
“Permintaan batu bara ini diperkirakan dari Asean meningkat,” jelasnya.
Pemerintah Siap Pangkas Produksi, DMO Bisa Naik
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan pemerintah bersiap mengurangi target produksi batu bara tahun depan, sekaligus membuka opsi menambah alokasi DMO.
Saat ini, pemerintah sedang mengevaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebelum menentukan angka final.
Bahlil mengungkapkan proyeksi produksi pada RKAB periode sebelumnya terlalu agresif, mencapai 900 juta ton per tahun, padahal permintaan batu bara global diprediksi melemah.
“Pemangkasan produksi ini juga untuk menopang harga batu bara di pasar,” tegas Bahlil.
Adapun kebutuhan batu bara nasional untuk PLN berada di kisaran 140–160 juta ton, sementara kebutuhan dunia sekitar 1,3 miliar ton, dan Indonesia mampu mensuplai hingga 600 juta ton.
DMO final sendiri masih menunggu rekap RKAB 2026.
“Minimal 25% sudah, titik,” ujar Bahlil tegas.

