Indonesia semakin serius menyiapkan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang kini ditempuh adalah memperkuat fondasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) melalui kerja sama internasional.
Komitmen tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) Workshop, sebuah forum kolaborasi trilateral antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang yang berfokus pada penguatan kesiapan teknologi nuklir sipil di Tanah Air.
Workshop ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga menjadi wadah memperkuat sumber daya manusia (SDM), kerangka regulasi, hingga kesiapan ekosistem industri nuklir nasional agar mampu mengembangkan energi nuklir secara aman dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, yang mewakili Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi kunci dalam mempercepat kesiapan Indonesia memasuki era energi nuklir.
Menurutnya, kolaborasi dengan Amerika Serikat dan Jepang mencakup penguatan desain dan regulasi Small Modular Reactor (SMR), peningkatan kemampuan manufaktur teknologi tinggi, serta penerapan standar keselamatan dan keamanan nuklir yang ketat.
“Nuklir menawarkan solusi energi yang stabil, rendah emisi, dan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan kemajuan teknologi seperti SMR, pengembangan nuklir kini semakin adaptif dan relevan bagi negara berkembang,” ujar Dadan.
Ia menambahkan bahwa Indonesia berkomitmen memastikan setiap tahapan pembangunan PLTN dilakukan dengan standar keselamatan tertinggi, tata kelola transparan, serta kesiapan SDM yang matang.
Asia Tenggara Mulai Melirik Energi Nuklir
Dadan juga mengungkapkan bahwa tren eksplorasi energi nuklir tidak hanya terjadi di Indonesia. Lima negara dengan konsumsi energi terbesar di Asia Tenggara — Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam — kini mulai aktif menjajaki potensi energi nuklir.
Kelima negara tersebut menyumbang hampir 89 persen permintaan energi regional, sehingga pengembangan sumber energi baru dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan di masa depan.
Kerja sama tersebut juga diperkuat melalui Jaringan Sub-Sektor Kerja Sama Energi Nuklir (NEC-SSN) yang mendorong kolaborasi regional di bidang teknologi, regulasi, dan pengembangan SDM nuklir.
PLTN Pertama Ditargetkan Beroperasi 2032
Pengembangan energi nuklir juga sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang memasukkan nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketahanan energi Indonesia.
Pemerintah menargetkan PLTN pertama Indonesia mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2032 dengan kapasitas awal 250 Megawatt (MW). Target ini telah dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Dalam jangka panjang, kontribusi energi nuklir dalam bauran energi primer nasional diproyeksikan mencapai 11,7 hingga 12,1 persen pada tahun 2060, dengan kapasitas pembangkit mencapai 35 hingga 42 Gigawatt (GW).
Selain mendukung upaya dekarbonisasi, energi nuklir juga dipandang memiliki sejumlah keunggulan seperti efisiensi penggunaan lahan dan biaya operasional jangka panjang yang relatif rendah.
Dukungan Amerika Serikat dan Jepang
Kerja sama internasional menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan teknologi nuklir di Indonesia.
Kuasa Usaha Kedutaan Besar Amerika Serikat, Peter M. Haymond, menyatakan bahwa negaranya merasa terhormat dapat menjadi mitra strategis Indonesia dalam pengembangan energi nuklir yang aman dan bertanggung jawab.
Menurutnya, teknologi yang dimiliki Amerika Serikat dapat mendukung Indonesia dalam membangun sistem energi masa depan yang lebih tangguh.
Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Myochin, menyampaikan bahwa Jepang berkomitmen mendukung transisi energi Indonesia melalui inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC).
Dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan teknologi nuklir, Jepang siap mendukung Indonesia melalui kerja sama teknis antara pemerintah, regulator, industri, serta pengembangan sumber daya manusia.
Kolaborasi Global Bangun Ekosistem Nuklir
FIRST Workshop sendiri merupakan kolaborasi antara Dewan Energi Nasional, Institut Teknologi PLN, dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, bersama sejumlah lembaga internasional seperti U.S. Department of State’s FIRST Program, Advanced Systems Technology & Management (AdSTM), Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), serta JAIF International Cooperation Center (JICC).
Forum ini mempertemukan para pembuat kebijakan, akademisi, pelaku industri, dan pakar energi nuklir untuk membahas berbagai aspek penting pembangunan PLTN.
Mulai dari teknologi Small Modular Reactor (SMR), kerangka regulasi, sistem perizinan, pengembangan SDM, hingga peluang partisipasi industri nasional dalam ekosistem energi nuklir Indonesia.
Dengan kolaborasi global dan kesiapan nasional yang terus diperkuat, Indonesia optimistis dapat menghadirkan sistem ketenagalistrikan yang tangguh, bersih, dan berdaya saing global di masa depan.



