Pemerintah tancap gas mempercepat program hilirisasi sebagai strategi mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sekaligus mengubah wajah perekonomian nasional. Salah satu fokus utamanya: membangun ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel dari hulu hingga hilir.
Komitmen itu ditegaskan saat Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyaksikan langsung penandatanganan Framework Agreement konsorsium ANTAM–IBI–HYD di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Negosiasi Panjang, Kini Resmi Jadi Kemitraan Strategis
Bahlil mengungkapkan, proyek ini bukan proses instan. Negosiasi sudah berjalan sejak dirinya masih menjabat sebagai Kepala BKPM/Menteri Investasi.
“Ini bagian dari negosiasi panjang untuk membangun ekosistem baterai mobil listrik yang terintegrasi di Indonesia,” ujarnya.
Penandatanganan dilakukan oleh:
- Dirut PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) Untung Budiharto
- Perwakilan Indonesia Battery Corporation (IBI) Aditya Farhan Arif
- Director HYD Investment Limited Liu Jinzheng
HYD sendiri merupakan konsorsium yang melibatkan:
- Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd.
- EVE Energy Co., Ltd.
- PT Daaz Bara Lestari Tbk
Negara Pegang Kendali, ANTAM Jadi Mayoritas
Bahlil menegaskan, kepemilikan mayoritas proyek akan dipegang ANTAM sebagai BUMN. Langkah ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang mengutamakan penguasaan negara atas sumber daya alam strategis.
Arahan Presiden Prabowo Subianto jelas: pengelolaan sumber daya harus mengutamakan kepentingan nasional, baik hari ini maupun di masa depan.
Namun pemerintah tetap membuka ruang kolaborasi global, terutama untuk transfer teknologi, akses pasar internasional, dan penguatan manajemen industri.
Kapasitas 20 GWh, Investasi USD 6 Miliar
Proyek ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 20 Giga Watt hour (GWh), menjadikannya salah satu ekosistem baterai terbesar di Asia.
Nilai investasi ditaksir mencapai USD 6 miliar atau sekitar Rp 90 triliun, dengan potensi menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja baru.
Detail teknis proyek kini masih difinalisasi melalui studi kelayakan.
Tak Hanya untuk Mobil Listrik
Ekosistem ini tak hanya menyasar kendaraan listrik, tetapi juga mendukung pengembangan pembangkit energi hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program PLTS 100 GW.
“Ini bukan hanya baterai mobil, tapi juga didesain untuk baterai tenaga surya,” tegas Bahlil.
Hilirisasi Sampai ke Daerah
Pengembangan proyek akan melibatkan berbagai daerah, mulai dari Jawa Barat hingga Maluku Utara. Tambang, smelter, dan fasilitas hilirisasi direncanakan dibangun di Halmahera Timur sebagai bagian dari penguatan industri berbasis sumber daya lokal.
Kolaborasi dengan investor global diharapkan mempercepat transfer teknologi, sehingga perusahaan nasional bisa menjadi pemain utama di negeri sendiri.
Target Besar: Indonesia Pemain Kunci Dunia
Dengan cadangan nikel terbesar dunia dan strategi hilirisasi yang agresif, Indonesia membidik posisi sebagai salah satu pemain utama global dalam industri bahan baku dan baterai kendaraan listrik.
Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, Indonesia tak lagi hanya dikenal sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai pusat industri baterai dan energi baru terbarukan dunia.


