Harga batu bara dunia ditutup stagnan di perdagangan akhir pekan lalu. Namun secara mingguan, si “batu hitam” masih menunjukkan performa yang cukup menggoda, dengan mencatat kenaikan 2,63% point-to-point.
Pada Jumat (19/9/2025), kontrak batu bara di ICE Newcastle untuk pengiriman bulan depan bertahan di US$ 103,35 per ton tak berubah dari hari sebelumnya. Walau tampak tenang, para analis menyebut ini sebagai “technical rebound”, bukan tren pemulihan yang solid.
🔍 Harga Naik, Tapi Belum Aman
Meski naik dalam seminggu terakhir, dalam sebulan harga batu bara masih tercatat turun lebih dari 7%. Penyebab utamanya adalah melimpahnya pasokan global, terutama dari China, yang dikenal sebagai konsumen sekaligus produsen batu bara terbesar di dunia.
Produksi batu bara China bahkan menyentuh rekor baru di 2025, membuat tekanan terhadap harga kian kuat. Setelah sempat memanas di Agustus akibat lonjakan penggunaan AC saat musim panas ekstrem, harga batu bara domestik China kini mulai mendingin dan diprediksi tetap stagnan hingga musim dingin tiba.
📊 Arah Harga Minggu Ini: Rebound atau Tenggelam Lagi?
Dari sisi teknikal, kondisi batu bara saat ini masih bearish dalam perspektif mingguan. Indikator Relative Strength Index (RSI) ada di level 38, yang menandakan tren masih negatif. Namun, indikator Stochastic RSI berada di angka 7, jauh di bawah level 20 mengindikasikan kondisi oversold (jenuh jual).
Artinya? Ada peluang teknikal bagi harga untuk rebound terbatas dalam jangka pendek.
🎯 Target Harga:
- Resistance terdekat: US$ 106/ton (MA-5)
- Jika tembus: US$ 109/ton (MA-10), lalu lanjut ke zona US$ 114 – 124/ton
- Support terdekat: US$ 102/ton (pivot point)
- Jika jebol: US$ 100, bahkan bisa turun ke US$ 98 atau US$ 93/ton dalam skenario terburuk
Pasar batu bara saat ini masih belum keluar dari tekanan, meski ada peluang rebound secara teknikal. Melimpahnya pasokan, khususnya dari China, serta menurunnya permintaan pasca musim panas, menjadi hambatan utama.
Investor dan pelaku industri disarankan tetap waspada, karena arah pasar bisa berubah cepat tergantung faktor cuaca, kebijakan ekspor-impor, dan tensi geopolitik energi global.

