
Harga batu bara dunia kembali menguat setelah sempat melemah dua hari berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan impor dari China di tengah penurunan produksi domestiknya.
Mengutip data Refinitiv, harga batu bara kontrak September ditutup naik 0,87% menjadi US$ 110,75 per ton pada perdagangan Senin (25/8/2025). Ini menjadi sinyal positif setelah tren penurunan dalam dua hari sebelumnya.
Di tengah dinamika pasar global, dua negara ekonomi raksasa Asia China dan India menunjukkan arah kebijakan yang berbeda dalam perdagangan batu bara. China tercatat kembali meningkatkan impornya, sedangkan India justru memangkas pembelian dari luar negeri akibat surplus produksi dalam negeri dan fokus pada transisi ke energi bersih.
Laporan lembaga riset Kpler, seperti dikutip kolumnis energi Reuters Clyde Russell, memperkirakan impor batu bara termal via laut ke China akan naik menjadi 25,63 juta ton pada Agustus 2025, dari 22,77 juta ton pada Juli. Ini merupakan volume tertinggi sejak Desember 2024.
Indonesia menjadi pemasok utama dengan volume ekspor ke China mencapai sekitar 16,13 juta ton angka tertinggi dalam lima bulan terakhir. Sementara itu, pasokan dari Australia juga meningkat menjadi 5,84 juta ton, mencatat kenaikan selama tiga bulan berturut-turut.
Kenaikan impor ini terjadi seiring penurunan produksi batu bara domestik China sebesar 3,8% pada Juli. Penyebabnya antara lain cuaca ekstrem dan kebijakan pemerintah yang berupaya menahan kelebihan pasokan. Namun secara kumulatif, produksi selama tujuh bulan pertama 2025 tetap tumbuh 3,8%.
Kebutuhan batu bara di China juga didorong oleh kenaikan produksi listrik dari pembangkit tenaga batu bara. Meskipun secara keseluruhan produksi listrik thermal China menurun 1,3% dalam periode Januari–Juli akibat meningkatnya kontribusi energi air dan terbarukan, pada bulan Juli saja, pembangkit listrik batu bara justru tumbuh 4,3% secara tahunan (YoY).
Produksi batu bara domestik pada Juli tercatat sebesar 380,99 juta ton, turun 3,8% YoY dan menjadi level terendah sejak April 2024.
Di sisi lain, situasi berbeda terjadi di India. Negara tersebut justru memangkas impor batu bara termal menjadi 9,74 juta ton pada Agustus, turun dari 11,99 juta ton di bulan sebelumnya. Ini merupakan volume terendah sejak Februari 2023 dan hampir separuh dari puncaknya pada Mei lalu.
Penurunan impor India dipengaruhi oleh peningkatan produksi dalam negeri serta dorongan besar-besaran ke arah energi terbarukan. Pemerintah India menargetkan produksi batu bara domestik tahun fiskal 2025 mencapai 1,15 miliar ton, memecahkan rekor sebelumnya.
Kondisi ini menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia. Di satu sisi, meningkatnya impor China menjadi peluang besar bagi ekspor Indonesia. Namun, di sisi lain, melemahnya permintaan dari India dapat memperketat persaingan dan memberi tekanan pada harga batu bara di pasar global.