Pemerintah terus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembangunan infrastruktur gas bumi. Salah satu langkah strategis yang kini dipercepat adalah pembangunan pipa transmisi gas bumi ruas Dumai – Sei Mangkei (Dusem) yang menghubungkan wilayah Riau hingga Sumatera Utara.
Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan mengintegrasikan jaringan distribusi gas bumi di Pulau Sumatera sekaligus memperluas akses energi bagi sektor industri, bisnis, hingga masyarakat.
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman menegaskan pembangunan pipa transmisi tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerintah mempercepat pemanfaatan gas bumi sebagai sumber energi yang lebih bersih dan efisien.
Hal itu disampaikan saat peresmian pengiriman perdana pipa proyek Dusem di pabrik PT Krakatau Pipe Industries di Cilegon, Banten.
“Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur pipa transmisi gas bumi agar akses energi dapat menjangkau lebih banyak wilayah. Tujuannya memberikan pasokan energi bagi sektor industri, komersial, dan masyarakat,” ujar Laode.
Nilai Proyek Capai Rp6,5 Triliun
Proyek pipa transmisi gas Dusem memiliki nilai investasi sekitar Rp6,5 triliun dengan kapasitas desain mencapai 109,2 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
Pembangunan proyek ini telah dimulai sejak Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Desember 2027.
Jika rampung, jaringan pipa sepanjang sekitar 541,8 kilometer tersebut akan menghubungkan berbagai wilayah industri penting di Sumatera sekaligus mendukung program hilirisasi industri serta penyediaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Dibangun dalam Dua Segmen Utama
Pembangunan jaringan pipa gas Dusem dibagi menjadi dua segmen besar.
Segmen pertama membentang dari SKG Belawan hingga Stasiun Labuhan Batu sepanjang 279,8 kilometer dengan kontraktor pelaksana kerja sama operasi PT Wijaya Karya dan PT Nindya Karya. Nilai kontraknya mencapai sekitar Rp3,6 triliun.
Sementara segmen kedua menghubungkan Stasiun Labuhan Batu hingga fasilitas Duri sepanjang 262 kilometer dengan kontraktor kerja sama operasi yang terdiri dari PT Brantas Abipraya, PT Remaja Bangun Kencana Kontraktor, PT Sumber Bangun Sentosa, dan PT Singgar Mulia. Nilai proyeknya sekitar Rp2,8 triliun.
Progres Proyek Lebih Cepat dari Target
Berdasarkan laporan terbaru, progres pembangunan proyek hingga minggu ke-8 menunjukkan hasil yang cukup positif bahkan melampaui target awal.
Pada Engineering-Procurement-Construction (EPC) Segmen 1, realisasi pekerjaan telah mencapai 12,447 persen, melampaui target awal sebesar 7,638 persen.
Sementara EPC Segmen 2 telah mencapai 12,061 persen, juga lebih tinggi dibandingkan rencana awal 10,295 persen.
Selain itu, proyek ini juga memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri dengan komitmen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai:
- 60,9 persen untuk Segmen 1
- 62,49 persen untuk Segmen 2
Pengiriman Ribuan Pipa Dimulai
Progres pembangunan juga didukung kelancaran distribusi material proyek.
Pengiriman Batch pertama pipa untuk segmen pertama telah dimulai pada 14 Februari 2026 dengan total 1.900 batang pipa yang dikirim melalui jalur laut menggunakan tongkang.
Sementara pengiriman Batch pertama untuk segmen kedua dijadwalkan mulai 23 Februari 2026, dengan pengiriman sekitar 130 batang pipa per hari melalui jalur darat menggunakan armada trailer khusus.
Industri Dalam Negeri Ikut Terlibat
Direktur Komersial PT Krakatau Pipe Industries, Rony Yanuardi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah kepada perusahaan dalam proyek strategis ini.
Menurutnya, proyek pembangunan pipa gas Dusem merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan kerja sama solid dari berbagai pihak.
“Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, kontraktor, dan industri, proyek sebesar ini tentu bisa diselesaikan dengan lancar,” ujarnya.
Dorong Ketahanan Energi Nasional
Dengan terbangunnya jaringan pipa transmisi gas Dusem, pemerintah berharap distribusi gas bumi di Sumatera semakin terintegrasi dan efisien.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek ini juga diharapkan mendukung pertumbuhan industri sekaligus memperluas penggunaan energi yang lebih bersih di Indonesia.



