Di tengah panasnya geopolitik global, energi dan mineral kritis kini tak lagi berdiri sebagai komoditas ekonomi semata. Keduanya telah bertransformasi menjadi alat tawar-menawar kekuatan global.
Jika dulu pengaruh negara diukur dari cadangan devisa dan kebijakan moneter, hari ini kendali atas energi justru menjadi penentu posisi di panggung internasional.
Transisi menuju energi bersih memang terus digaungkan. Namun realitas di lapangan berbicara lain. Kebutuhan energi dunia masih sangat besar dan belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh sumber terbarukan.
Di titik inilah batubara, dengan segala kontroversinya, masih menjadi tulang punggung energi banyak negara termasuk Indonesia.
Sepanjang 2024, konsumsi batubara global justru meningkat, terutama di kawasan Asia. Tiongkok dan India masih menjadi pemain utama.
Proyeksi International Energy Agency bahkan menunjukkan permintaan batubara dunia hingga 2027 relatif stagnan, meski Amerika Serikat dan Eropa mulai mengerem pemakaian.
Fakta ini penting dibaca secara jernih, tanpa romantisme transisi maupun sikap menutup mata.Di Indonesia, dampak perubahan global itu tercermin pada angka produksi.
Tahun 2025, produksi batubara nasional tercatat sekitar 817,4 juta ton, turun 2,3 persen dibanding 2024. Penurunan ini kerap dibaca sebagai sinyal pelemahan.
Padahal, dalam konteks kebijakan, langkah tersebut justru mencerminkan upaya pengendalian agar produksi tidak semata mengikuti pasar, melainkan juga mempertimbangkan kebutuhan domestik dan keberlanjutan cadangan.
Penjualan batubara untuk pasar dalam negeri justru meningkat. Sepanjang 2025, realisasi Domestic Market Obligation mencapai 246,8 juta ton, naik sekitar enam persen.
Batubara ini menopang pembangkit listrik, industri pupuk, semen, hingga sektor strategis nasional. Di tengah ketidakpastian global, menjaga pasokan energi dalam negeri menjadi harga mati.
Batubara hari ini bukan lagi soal ekspor besar-besaran. Ia telah menjadi bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Tantangannya bukan memilih antara batubara atau energi bersih, melainkan bagaimana mengelolanya secara cerdas dan terukur di tengah dunia yang terus berubah.

