Isu ketahanan energi kembali mengemuka di tengah ketegangan geopolitik global. Forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) yang digelar di Tokyo, menjadi ajang diskusi para menteri dan pelaku industri energi tentang strategi memperkuat pasokan energi kawasan Indo-Pasifik.
Dalam forum tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya kolaborasi energi antarnegara, bukan persaingan yang justru merugikan.
“Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia, kita perlu memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat satu sama lain, bukan justru saling menjatuhkan,” ujar Bahlil di hadapan para delegasi.
Bahlil memaparkan bahwa Indonesia berkontribusi besar terhadap pasokan energi dunia, antara lain dengan mengirim 150 kargo LNG pada 2025 dan mengekspor sekitar setengah pasokan batu bara global. Langkah ini diyakini turut memperkuat ketahanan energi internasional.
Namun, Bahlil menegaskan bahwa jika kolaborasi internasional terganggu, Indonesia tetap memprioritaskan kebutuhan domestik. Salah satunya adalah pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) untuk biodiesel, di mana Indonesia merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar dunia dengan ekspor mencapai 30 juta ton per tahun.
“Meski Perjanjian Paris mendesak transisi dari batu bara, kenyataannya banyak negara tetap meningkatkan impor batu bara dari Indonesia,” tambahnya.
Di tengah isu pasokan energi global, pemerintah tetap berkomitmen mendorong transisi energi. Bahlil menekankan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan PLTD diesel dan memperkuat ketahanan energi nasional.
“Indonesia sangat berkomitmen mendorong transisi energi, termasuk eliminasi PLTD diesel melalui PLTS 100 GW,” tegas Bahlil.
Forum ini, yang diselenggarakan bersama Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang serta National Energy Dominance Council Amerika Serikat, menghasilkan pernyataan bersama: ketahanan energi kawasan harus diperkuat, sambil tetap menghormati jalur transisi energi yang dipilih masing-masing negara.
Indonesia pun muncul sebagai aktor kunci di Indo-Pasifik, menggabungkan ekspor energi strategis, pemanfaatan CPO untuk biodiesel, dan transisi energi bersih, sekaligus menjaga prioritas kebutuhan domestik.




