Permintaan batu bara global mulai stagnan. Importir besar seperti China, India, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan perlahan mengurangi ketergantungan.
Di tengah tren ini, eksportir seperti Indonesia dan Australia justru berada di persimpangan jalan.Riset terbaru menawarkan pendekatan pragmatis: jangan tutup tambang yang sudah ada, tapi hentikan izin tambang baru.
Logikanya sederhana. Jika pasokan masa depan dibatasi, harga akan naik. Ketika harga naik, negara produsen akan menerima royalti lebih besar. Stabilitas harga juga melindungi perusahaan dan pekerja tambang dari gejolak pasar.
Skema ini meniru strategi OPEC di sektor minyak, yang selama puluhan tahun mengatur produksi untuk menjaga harga tetap stabil.
Dampaknya bisa luas. Energi terbarukan seperti surya dan angin akan lebih kompetitif tanpa harus bersaing dengan batu bara murah. Negara importir pun terdorong mempercepat transisi energi.
Menariknya, hanya 11 negara yang saat ini memiliki tambang batu bara baru dalam tahap persetujuan. Artinya, peluang koordinasi masih terbuka.
Indonesia dan Australia saja sudah menguasai hampir 70 persen ekspor laut dunia. Jika ditambah Afrika Selatan dan Kolombia, kekuatan mereka mencapai 80 persen.
Bagi investor Jepang dan Korea Selatan yang juga punya saham di proyek tambang pembatasan ekspansi ini bisa menjaga nilai aset tetap stabil tanpa perlu intervensi ekstrem seperti penutupan paksa tambang.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan berkeadilan, sekaligus memberi ruang bagi komunitas tambang untuk beradaptasi secara bertahap.


