Harga batu bara dunia kembali tergelincir setelah sempat melonjak tajam pada akhir pekan lalu. Tekanan datang dari pasar China yang mulai melesu menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek, ditambah sentimen negatif dari penguatan energi terbarukan global.
Mengacu data Refinitiv, harga batu bara ditutup di level US$116,6 per ton pada perdagangan Senin (2/2/2026), turun 1,31 persen.
Penurunan ini terjadi hanya beberapa hari setelah harga batu bara sempat “terbang” 5,7 persen dan menembus level US$118 per ton, tertinggi dalam setahun terakhir, pada Jumat (30/1/2026).
Pelemahan harga dipicu kondisi pasar batu bara kokas (coking coal) China yang memasuki fase lull atau lesu jelang Tahun Baru Imlek pada 17 Februari 2026.
Aktivitas pembelian melemah signifikan, terutama dari sektor hilir seperti pabrik baja, seiring pelaku usaha mengurangi transaksi besar sebelum libur panjang.Minat beli kian menyusut lantaran banyak pembeli memilih menahan transaksi dan bersikap wait and see.
Di sisi lain, produsen juga berhati-hati melepas stok, membuat volume perdagangan coking coal relatif sepi dan pergerakan harga cenderung datar tanpa lonjakan berarti.
“Pasar saat ini bukan benar-benar kuat, tapi lebih ke arah menunggu perkembangan setelah libur Imlek,” menjadi gambaran sentimen pelaku industri batu bara China saat ini.
Tekanan tambahan datang dari sektor energi global. Di Eropa, Jerman, Prancis, dan Belanda memangkas total sekitar 3,9 TWh produksi energi terbarukan sepanjang 2025. Angka ini menjadi yang terbesar di kawasan Eropa dan melonjak 21 persen dibandingkan 2024, seiring melonjaknya jam harga listrik negatif di pasar listrik kontinental.
Pemangkasan atau curtailment terjadi saat pembangkit energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya dipaksa mengurangi pasokan listrik akibat kelebihan suplai, harga listrik negatif, hingga keterbatasan penyimpanan energi.
Meski terlihat paradoks, peningkatan kapasitas energi terbarukan ini justru menjadi kabar buruk bagi batu bara, karena berpotensi menekan permintaan dan harga ke depan.
Padahal sebelumnya, harga batu bara sempat menguat berkat permintaan pembangkit listrik, terutama dari China. Negeri Tirai Bambu itu bersiap mengoperasikan lebih dari 100 unit PLTU batu bara baru pada 2026, di luar 400 unit lebih yang masih dalam tahap konstruksi, demi memenuhi kebutuhan listrik domestik dan ekspor.
Sebagai konsumen, produsen, sekaligus importir batu bara terbesar di dunia, China masih sangat bergantung pada komoditas ini untuk menopang pertumbuhan ekonomi, meski secara bersamaan terus memperluas energi terbarukan dan berjanji mengurangi ketergantungan pada batu bara sebelum 2030.
Di sisi lain, permintaan listrik global juga terus naik, didorong oleh pertumbuhan pusat data kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya kebutuhan pengisian kendaraan listrik (EV), yang secara tidak langsung masih menopang konsumsi batu bara.Namun dari dalam negeri, Indonesia menghadapi tantangan tersendiri.
Produksi batu bara nasional diperkirakan turun menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, dari hampir 800 juta ton pada 2025, seiring melemahnya permintaan impor dari China dan India.Kombinasi sentimen global, libur Imlek, dan transisi energi membuat pergerakan harga batu bara ke depan masih dibayangi volatilitas tinggi.


