Tekanan terhadap batubara Indonesia kian terasa. Tahun 2025 menjadi periode ujian, ketika pasar ekspor melemah, harga terkoreksi, dan persaingan global semakin padat.
Ekspor ke Tiongkok turun sekitar 26 juta ton, sementara India memangkas impor dari Indonesia hingga 11 persen. Dua pasar utama itu belum mudah tergantikan.
Masalahnya tak berhenti di situ. Batubara Rusia yang sebelumnya membanjiri Eropa kini berbelok ke Asia. Di saat bersamaan, Tiongkok dan India terus meningkatkan produksi domestik mereka.
Pasar ekspor pun menjadi arena yang semakin sesak, sensitif, dan penuh tekanan harga.Di dalam negeri, tantangan lain justru muncul dari struktur cadangan. Indonesia memiliki sekitar 29 miliar ton cadangan batubara terverifikasi. Namun mayoritas merupakan batubara berkalori rendah.
Data penjualan 2022 hingga Oktober 2025 menunjukkan lebih dari separuh transaksi berasal dari jenis ini. Yang patut diwaspadai, laju penjualan batubara kalori menengah jauh lebih cepat dibanding ketersediaan cadangannya.Jika dibiarkan tanpa pengaturan, pola ini berpotensi menggerus cadangan strategis lebih cepat dari yang seharusnya.
Di sinilah negara harus hadir. Bukan untuk mematikan usaha, tetapi memastikan pemanfaatan sumber daya memberi manfaat jangka panjang, bukan sekadar keuntungan sesaat.Dari sisi harga, 2025 mencatat koreksi cukup tajam.
Tahun 2026 diproyeksikan relatif stabil, namun tetap rentan terhadap dinamika geopolitik dan pasokan global.
Dalam situasi target penerimaan negara yang tinggi, produksi yang terlalu agresif justru bisa menjadi bumerang dengan menekan harga dan menggerus kontribusi sektor ini.Karena itu, pendekatan pengelolaan batubara perlu diubah.
Batubara tidak lagi semata diposisikan sebagai komoditas ekspor, tetapi sebagai sumber daya strategis nasional. Pengendalian produksi, penyesuaian dengan kebutuhan dalam negeri, serta perlindungan cadangan menjadi langkah yang tak terelakkan.
Tahun 2026 menjadi fase krusial untuk menegaskan arah tersebut. Jalan sunyi ini mungkin tak populer, tetapi justru penting agar batubara Indonesia tetap bernilai di tengah perubahan global yang kian cepat.
Juanda Volo Sinaga : Analis Kebijakan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM

