Menyaksikan dampak banjir bandang dan longsor di Kecamatan Pelembayan, Kabupaten Agam, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia geram sekaligus prihatin. Ia langsung menyoroti kemungkinan aktivitas pertambangan serampangan yang bisa memicu kerusakan lingkungan dan menimbulkan korban jiwa.
“Ini menyedihkan. Saya pastikan akan menindak tegas para penambang yang bekerja serampangan tidak sesuai ketentuan, jika benar musibah ini terjadi akibat kegiatan pertambangan,” tegas Bahlil.
Bahlil segera memerintahkan Tim ESDM Siaga Bencana untuk bergerak ke lokasi terdampak. Deru alat berat hilir mudik membersihkan sisa bencana dan mengevakuasi korban, sementara posko-posko darurat didirikan untuk memobilisasi bantuan dan sumber daya secara optimal.
Bencana ini tidak hanya melanda Kabupaten Agam, tetapi juga empat kabupaten lain di tiga provinsi: Humbang Hasudutan, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, dengan total korban mencapai ribuan jiwa.
Badan Geologi Kementerian ESDM menilai bencana dipicu curah hujan ekstrem, kondisi geomorfologi yang curam hingga sangat curam, serta litologi yang lapuk dan mudah tererosi.
“Peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui identifikasi tanda awal longsor, jalur evakuasi, dan revitalisasi vegetasi lereng menjadi fondasi pencegahan. Pengendalian tata guna lahan pada lereng curam dan perbaikan drainase permukaan sangat menentukan dalam menurunkan risiko pada kawasan permukiman,” ujar Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria.
Untuk memastikan penyebab dan penanganan bencana, Badan Geologi mengirim Tim Tanggap Darurat Gerakan Tanah dan Banjir Bandang ke Sumatra (Aceh, Sumut, dan Sumbar) secara bertahap. Tim ini akan menginventarisir dan menyelidiki kondisi lapangan secara mendetail.
Selain itu, Bahlil meminta PT PLN (Persero) segera memulihkan infrastruktur kelistrikan yang terdampak.
“Semua lokasi bencana pekan ini akan kembali menikmati penerangan,” tegasnya.
Menteri ESDM juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memprioritaskan pemulihan sektor pendidikan, memastikan anak-anak dapat kembali bersekolah, termasuk penyediaan perlengkapan dan perbaikan gedung sekolah yang rusak.
Menutup kunjungannya, Bahlil menekankan pentingnya mitigasi agar bencana serupa tidak terulang.
“Tidak boleh ada lagi kejadian bencana yang memakan korban jiwa dan ribuan masyarakat mengungsi,” gumamnya sambil menahan kesedihan.

