Presiden RI Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas (ratas) dengan sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara untuk membahas sektor perekonomian nasional. Salah satu topik yang menjadi sorotan utama adalah soal tambang mineral.
Dalam rapat tersebut, Presiden secara khusus menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk membentuk Joint Ore Reserve Committee (JORC) standar global dalam pelaporan eksplorasi, sumber daya mineral, dan cadangan bijih.
“Pak Presiden memerintahkan kepada kami untuk segera melakukan JORC terhadap seluruh cadangan kita,” ujar Bahlil.
Ia menyebut cadangan yang akan dihitung mencakup batu bara, bauksit, nikel, timah, dan berbagai jenis mineral lainnya.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin memastikan data cadangan mineral Indonesia tersaji secara transparan, akurat, dan dapat diterima oleh standar global industri pertambangan.
Menurut Bahlil, hasil JORC bukan hanya catatan data teknis semata, tetapi senjata strategis untuk meningkatkan minat investasi serta mempercepat program hilirisasi.
“Kemudian itu bisa dijadikan sebagai bagian kita dorong untuk sektor hilirisasi ini untuk meningkatkan investasi kita,” jelasnya.
Rapat terbatas ini juga turut dihadiri sejumlah menteri kunci:
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni
- Menteri ATR/BPN Nusron Wahid
Pertemuan ini sekaligus memperjelas arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo ke depan maksimalisasi nilai tambah sektor pertambangan di dalam negeri, bukan sekadar ekspor bahan mentah.
Dengan JORC sebagai patokan baru, Indonesia bersiap menunjukkan berapa besar “harta karun” mineral yang sesungguhnya dimiliki, dan memastikan manfaat ekonominya kembali untuk rakyat.

