PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali menorehkan capaian penting dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional. Melalui pengeboran sumur pengembangan di Lapangan Ampuh, Zona Rokan, PHR berhasil mencatat produksi awal yang mengesankan dari Sumur Ampuh AH030.
Sumur AH030 membukukan hasil uji produksi sebesar 2.098 barel minyak per hari (BOPD). Lebih membanggakan lagi, produksi tersebut seluruhnya merupakan crude oil murni, tanpa kandungan air maupun gas.
Capaian ini menjadi bukti bahwa Wilayah Kerja (WK) Rokan masih menyimpan potensi besar sebagai salah satu tulang punggung produksi migas nasional. “Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan cadangan dan produksi minyak nasional, tetapi juga memberikan optimisme besar bagi industri migas di Indonesia,” ujar Direktur Utama PHR, Ruby Mulyawan. Ia menegaskan, hasil positif ini merupakan buah kerja keras para pekerja PHR yang terus berinovasi demi menjaga ketahanan energi nasional.
Implementasi Teknologi Pemboran Maju
Sumur AH030 dibor menggunakan teknik directional drilling dengan konsep “local attic development”. Pemboran menyasar Reservoir Menggala Formation (Fm) pada lapisan MN-5580, serta tambahan lapisan BK-5000 dan MN-5540. Seluruh proses pengeboran rampung dalam waktu tiga minggu dengan kinerja lapangan yang efisien serta mengutamakan keselamatan kerja.
PHR menyebut keberhasilan ini merupakan langkah nyata dalam mendukung target pemerintah menuju swasembada energi sesuai visi Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto.
Kolaborasi tim bawah tanah (subsurface), reservoir, drilling, hingga operasi produksi menjadi kunci dalam strategi pengembangan Lapangan Ampuh yang dinilai efektif dan terintegrasi.
Apresiasi SKK Migas dan Dorongan Lanjutkan Inovasi
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, uji produksi yang gemilang dari Sumur Ampuh AH030-NW1 menunjukkan keberhasilan inovasi teknis dan optimalisasi SDM di WK Rokan.
“Ini adalah sinyal positif bagi pencapaian target produksi nasional 2026,” ujar Djoko.
Ia menambahkan, keberhasilan ini sekaligus menjadi pendorong untuk mengevaluasi dan mengembangkan potensi tambahan produksi dari Low Quality Reservoir (LQR). Pengembangan tersebut akan diarahkan melalui penerapan teknologi Multi Stage Fracturing (MSF) di sejumlah titik potensial di WK Rokan.
Menuju Target Produksi Nasional 2026
SKK Migas menilai capaian ini sebagai indikator kuatnya kolaborasi antara pemerintah, industri hulu migas, dan PHR. Langkah tersebut selaras dengan upaya mencapai target produksi minyak nasional 2026 sebesar 610 ribu BOPD sebagaimana ditetapkan dalam APBN 2026.
“Kami akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh KKKS. Keberhasilan MSF di PHE dapat dijadikan contoh bagi semua pihak. Kami segera menginstruksikan agar dilakukan pekerjaan MSF di 100 sumur dan pengeboran di 100 sumur eksplorasi baru, baik onshore maupun offshore,” tegas Djoko.
Dengan capaian gemilang Sumur AH030, WK Rokan kembali menunjukkan perannya sebagai aset strategis bagi kemandirian energi Indonesia.

