Di tengah arus globalisasi dan percepatan teknologi dunia, Indonesia dihadapkan pada pertanyaan besar: bagaimana tetap maju tanpa kehilangan arah, jati diri, dan nilai kebangsaan?
Saat negara lain sibuk berburu sumber daya baru, Indonesia justru diingatkan untuk tidak hanya menjadi penambang sumber daya alam, tapi juga penjaga kehidupan. Energi bukan lagi soal bahan bakar, melainkan tentang cahaya yang menerangi masa depan bangsa.
Energi sejatinya adalah urat nadi peradaban. Ia menggerakkan ekonomi, menopang kesejahteraan, dan menjadi simbol kedaulatan negara.
Bangsa yang kehilangan kendali atas energinya, sejatinya kehilangan sebagian kendali atas masa depannya.
Karena itu, kemandirian energi bukan sekadar urusan bisnis atau investasi, melainkan amanah kebangsaan.
“Energi yang sejati bukan hanya soal listrik atau minyak, tapi tentang kehidupan yang adil dan berkelanjutan,” begitu pesan reflektif yang kini mulai menggema di ruang-ruang kebijakan nasional.
Ketika dunia berbicara soal transisi energi, Indonesia diajak tidak hanya berpindah dari fosil ke energi bersih, tapi juga dari eksploitasi menuju keseimbangan, dari keserakahan menuju tanggung jawab.
Bangsa ini lahir dari semangat kemandirian, dan kini semangat itu diuji kembali bukan di medan perang fisik, tapi di medan energi dan teknologi.
Indonesia tak bisa selamanya bergantung pada batu bara dan minyak, namun juga tak bisa tergesa meninggalkannya tanpa kesiapan.
Transisi energi sejatinya adalah gerakan kesadaran kolektif seluruh bangsa.
Sering kali, kita mendengar istilah energi hijau atau energi bersih. Tapi, kebersihan sejati tidak hanya diukur dari rendahnya emisi karbon.
Jika pembangkit energi terbarukan dibangun dengan menyingkirkan masyarakat adat, atau tambang nikel untuk baterai malah meninggalkan luka ekologis, maka itu bukan energi bersih — itu hanya wajah lama dengan topeng baru.
Energi bersih sejati lahir dari cara yang bersih dan niat yang tulus.
Listrik di kota besar tak berarti banyak jika desa-desa di pelosok masih gelap gulita.
Energi yang hanya menerangi sebagian rakyat sejatinya bukan energi bangsa, melainkan energi bisnis.
Indonesia punya potensi energi luar biasa mulai dari panas bumi terbesar kedua di dunia, sinar matahari sepanjang tahun, angin yang tak pernah berhenti berhembus, hingga biomassa melimpah.
Namun semua itu harus dikelola bukan dengan nafsu, tapi dengan nurani.
Program hilirisasi yang kini dijalankan pemerintah menjadi langkah penting menuju kedaulatan energi. Tapi keberhasilannya tidak cukup diukur dari investasi atau ekspor, melainkan dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat di sekitar proyek.
Pembangunan tanpa keadilan sosial hanyalah pertumbuhan tanpa ruh.
Energi sejati adalah yang membangkitkan semangat kolektif dari peneliti di laboratorium, petani biogas di desa, nelayan di dermaga surya, hingga birokrat yang jujur menjaga tata kelola energi.
Generasi muda tidak boleh jadi penonton dalam babak baru transisi energi ini.
Mereka harus jadi pelaku, inovator, dan penjaga nilai.
Investasi terbesar bangsa bukan pada infrastruktur, tapi pada integritas manusia yang mengelolanya.
Kita butuh ilmuwan yang beretika, insinyur yang menghormati bumi, dan pemimpin yang berani menegakkan keadilan energi.
Energi sejati bangsa ini bukan berasal dari batu bara, minyak, atau matahari melainkan dari semangat rakyatnya yang tak pernah lelah mencintai negeri ini.
Kita boleh modern, tapi jangan kehilangan nurani.
Kita boleh maju, tapi jangan melupakan nilai.
Mari jaga energi negeri ini bukan hanya untuk menyalakan lampu, tapi untuk menyalakan harapan.
Agar Indonesia tetap terang, adil, dan sejahtera bagi semua.

