Transisi energi di Indonesia tak lagi sekadar isu lingkungan. Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menegaskan dekarbonisasi industri harus dilihat sebagai peluang ekonomi besar, bukan beban biaya.
Pernyataan itu disampaikan dalam SUAR Roundtable Discussion di Jakarta, Selasa (3/2). Menurutnya, peta jalan energi bersih berpotensi menarik investasi hingga Rp1.682,4 triliun—sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi dan pertumbuhan ekonomi hijau.
700 Ribu Lebih Green Jobs Siap Tercipta
Yuliot memaparkan, geliat investasi tersebut bukan hanya memperkuat pasokan energi bersih, tetapi juga memberi dampak ekonomi signifikan.
Beberapa proyeksi utamanya:
- 💰 Investasi sekitar Rp1.680 triliun
- 👷♂️ Potensi 760 ribu lapangan kerja hijau (green jobs)
- 🌱 Penurunan emisi 120–130 juta ton CO₂
Lapangan kerja hijau itu tersebar dari tahap pra-konstruksi, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, hingga industri manufaktur komponen energi terbarukan.
Artinya, dekarbonisasi bisa menjadi mesin baru industrialisasi nasional.
Tantangan Besar: Pendanaan dan Skema Bankable
Meski peluangnya besar, tantangan utama ada pada pembiayaan. Pemerintah menyadari APBN tidak cukup untuk menopang target ambisius kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).
Karena itu, Yuliot menekankan pentingnya skema blended finance—model pembiayaan yang menggabungkan dana publik dan swasta agar proyek energi hijau lebih menarik secara komersial.
“Sektor keuangan harus kita dorong agar pembiayaan hijau bisa menguntungkan pelaku usaha dan sektor finansial,” tegasnya.
Blended finance dinilai mampu menjembatani gap antara kelayakan proyek dan ekspektasi imbal hasil investor.
Kolaborasi Jadi Kunci
Transisi energi bukan pekerjaan satu pihak. Pemerintah, BUMN, sektor swasta, hingga lembaga keuangan harus berjalan seirama.
Yuliot menekankan, kolaborasi ini penting untuk:
- Menciptakan ekosistem investasi sehat
- Mengurangi risiko proyek
- Meningkatkan daya saing global
- Menjaga keberlanjutan lingkungan
Target jangka panjangnya jelas: penurunan emisi hingga 129,5 juta ton CO₂ sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Energi Hijau = Peluang Ekonomi Baru
Pesan utama yang ingin ditegaskan pemerintah: dekarbonisasi bukan sekadar kewajiban global, melainkan strategi ekonomi.
Jika dikelola tepat, transisi energi bisa menjadi sumber pertumbuhan baru, membuka ratusan ribu lapangan kerja, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi hijau global.



